Tampilkan postingan dengan label NgomongSendiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NgomongSendiri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Maret 2017

Emang Harus Toleransi?

Apa sih artinya toleransi?

Karena akhir - akhir ini banyak sekali diperbincangkan. Toleransi antar suku, antar bangsa, antar agama. Kenapa dengan toleransi? Apakah harus ada toleransi?

Indonesia terdiri dari mayoritas bangsa Melayu dan berbagai suku di dalamnya, juga beberapa bangsa pendatang lain. China, India, Arab, dan beberapa bangsa Eropa. Indonesia sama seperti bangsa Timur lainnya, masih tradisional, mengedepankan pendapat orang yang lebih tua, dan pendapat orang lain. Beberapa masih kolot dan tradisional, tapi warga Indonesia tidak pernah diskriminatif.

Bangsa Indonesia terkenal jujur dan apa adanya. Cantik dibilang cantik, jelek dibilang jelek. Memuji orang sesuai apa yang ada padanya. China ya china, papua ya papua, jawa ya jawa. Mana bisa liat orang Jawa, tapi sungkan nyebut jawa?

Sama juga china. Orang china ya disebut china. Kenapa disebut china? Meskipun tinggal di Indonesia? Karena mereka orang china. Karena awalnya mereka tidak ada di sini, di Indonesia. Mereka datang dari negri china. Ya disebutlah china. Begitu juga orang Arab dan Indonesia.
Di kampung Arab banyak sekali warga keturunan Arab yang sudah turun temurun tinggal di Indonesia, mereka bahkan tidak bisa bahasa Arab. Tetap saja mereka disebut orang Arab.

Semua sama saja. Kami menyebutnya apa adanya. Dan memanggil mereka begitu bukanlah rasis atau tidak toleransi.

Toleransi adalah dengan tidak mengganggu sesuatu yang prinsip milik orang lain. Ketika orang china mengadakan imlek, sebagai orang jawa kita tidak boleh mencegahnya, itu toleransi.
Ketika orang kristen merayakan pesta natal, orang Islam tidak boleh mencegahnya, itu toleransi. Tapi beberapa perayaan yang berbeda bisa menimbulkan ketidaknyamanan terhadap orang lain. Meskipun itu prinsip.

Contoh, di Bali beberapa masjid tidak boleh mengumandangkan adzan. Karena merusak kesucian kuil dan membuat warga hindu tidak nyaman. Di sini warga hindu harusnya bersikap toleransi terhadap suatu yang prinsip bagi orang Islam. Tapi ada berapa warga Hindu di Bali? Mayoritas penduduk Bali adalah orang hindu. Itu artinya mengenai kepentingan orang banyak. Di sinilah orang Islam harus toleransi juga. Demi kepentingan bersama, meskipun adzan adalah suatu yang prinsip.

Toleransi itu saling. Bukan cuma sepihak. Toleransi itu dirasakan dan dikerjakan, bukan diumumkan di media. Toleransi itu jika dibutuhkan!

Jika warga nahda sebelumnya mendukung calon non Muslim maju memimpin warga mayoritas Muslim atas nama toleransi. Betapa baiknya mereka.

Namun beberapa saat kemudian membubarkan pengajian muslim lainnya yang berbeda, meskipun jamaahnya banyak. Betapa tidak konsistennya mereka.

ahk bahkan non Muslim, dia ngomong sembarangan soal Qur'an dan ulama, dia juga maju untuk memimpin Jakarta yang mayoritas Muslim. Kalo ada yang mendukung, itu bukan toleransi. Itu hawa nafsu. Justru yang harus toleransi itu ahk. Dia menghina kitab suci agama lain, mengatai ulama agama lain, tidak sungkan maju memimpin meski warga mayoritas tidak nyaman.

ahk memang minoritas, tapi dia harus toleran. Karena toleransi itu saling!

Ustadz yang dengan sayangnya dibubarkan pengajiannya juga, mulai sekarang harus mengajarkan pada jama'ah pendengarnya untuk toleran. Untuk menyayangi muslim lainnya meskipun,

Meskipun mereka belun benar aqidahnya, masih bid'ah ibadahnya, masih syirik kecil.

Harus menghormati da'i lain yang juga berjuang di jalan Allah. Meskipun,

Meskipun beda caranya. Beda pakaiannya. Beda buku panduannya.

Karena sungguh diusir oleh sodara sendiri itu tidak enak. Dikatai kafir oleh sodara sendiri juga tidak enak.

Jangan toleransi sama china, kristen, dst. Kalo ga bisa toleransi sama sodara sendiri sesama Muslim.

*Tulisan ini pendapat dan tanbih buat pribadi. Jika ada pihak yang merasa disebut tidak usah sakit hati. Direnungi aja.

Jumat, 10 Maret 2017

Busuk

Bagaimana rasanya kerepotan mengurus dirimu sendiri?

Rasanya bernapaspun terasa melelahkan. Aku selalu ekstrovert dan impulsif sejak kecil. Jadi aku biasa mengutarakan apa yang aku pikirkan, sama teman, orang tua, guru. Sampai saat dewasa ini aku kesulitan mengontrol diri sendiri. Karena tidak sesimpel itu mengutarakan pikiran kepada sesama dewasa.

Rasanya gelisah saat ada teman yang pake baju tidak sesuai, lipatan miring atau tidak pantas. Aku mendukung kebebasan berekspresi, hanya saja kewalahan atas diriku sendiri.

Aku juga sensitif dengan bau. Aku bisa mengenali bau dengan cepat. Mengenali basi, bumbu masakan, udara, tanah, air, dan bau manusia. Aku bisa mengenali bau busuk deodorant bercampur keringat. Atau bau busuk menusuk tanpa deodorant.

Beberapa orang percaya, bau deodorant bercampur keringat beraroma tidak enak. Tapi sesungguhnya bau busuk tanpa filter deodorant lebih menyengat dan mematikan. Beberapa memilih tidak pakai karena tidak nyaman. Apalah artinya hidup nyaman, jika orang di sekitarmu mati kehabisan udara segar.

Dan hatiku kebingungan. Instingku mengatakan aku harus mengatakan terus terang. Tapi rasa kemanusiaanku mengatakan bahwa setiap orang berhak memilih cara hidupnya. Mau itu bau atau tidak itu haknya. Tapi kadang sebagai teman, aku rasa dia berhak tahu. Bahwa dia bau. Bahwa baunya tak tertahankan.

Dia cantik, rapi, percaya diri, dia hanya tidak tahu kalau dia bau.
Beberapa bahkan sudah menikah. Dan baunya tidak diupgrade, sebusuk sebelumnya. Aku terkejut, mungkin ini preferensi suaminya.

Aku menyayangi mereka, hanya saja aku tidak tahan tidur di sebelahnya, duduk di belakangnya, memeluknya.

Aku bingung dan tercekik oleh insting keviasaanku sendiri. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak mau menyakiti semua orang, tapi aku juga butuh udara segar ....

N.b : kalo kalian baca ini, bantu aku. Kasih tahu apa yang harus aku lakukan buat mereka.

Selasa, 22 Maret 2016

Rintik Hujan dan Kenangan



Assalamualaikum ...

Di luar hujan rintik sekarang, jadi suhunya sejuk sejuk gimana gitu. Ditambah lagi duduk di lantai dengan kipas menyala.

Apa yang kamu pikirkan saat hujan? Orang bilang, hujan itu terdiri dari air dan kenangan manusia. Makanya ketika rintiknya turun, terbongkar semua kenangan. Seperti slide yang tiba - tiba berganti di ruang gelap.

Aku nggak. Moment saat hujan adalah moment paling bersih buatku. Pikiranku tenang, dan denyut jantungku stabil. Rintik hujan itu kaya morphin buatku. Menenangkan, melenakan sejenak. Dunia terasa sunyi dan tentram ... terlepas dari derasnya rintik hujan. Suhu menurun ... rileks. Aku suka hujan. Dia tidak pernah mengbangkitkan apapun dalam diriku kecuali ketenangan.

Lalu kenangan, dimana ia tersimpan dan terbongkar?

Seperti Tom Marvolo Riddle, aku menyimpan kenanganku bersama serpihan kekuatanku dalam horcrux. horcrux - horcrux yang tersebar di sepanjang napak tilas kehidupanku. Ia sulit ditemukan, jumlahnya juga lebih banyak dari punya Tom Riddle. Tapi, kapanpun aku menemukan horcrux itu, kenangan terbongkar membanjiri pikiranku, kelopak mataku seperti berwarna - warni, dan slide - slide yang sudah usang itu diputar kembali.Dab terkadang aku terkejut, karena slide yang dulu hitam putih kini berwarna.

Kenangan memang produk masalalu, ia jumud, tidak akan pernah berubah. Namun kamu tidak akan pernah tahu, bagaimana sesuatu yang jumud itu mampu mempengaruhi masa depanmu yang dinamis. Kenangan itu solid, tapi cara kita menengok kembali kenangan adalah liquid. Dia cair, bisa berubah ubah setiap kali kamu menengok kembali.

Saat kamu beranjak menengok kembali kenanganmu dan kamu mendapati warnanya berubah, saat itulah ia mempengaruhimu.

Saat itulah seharusnya kamu belajar. Mengambil ibroh dan menuliskannya dalam quote - quote cantik dalam catatan kehidupan.

Saat itulah kamu tahu, kapan kenangan meraihmu dan menolongmu. Kapan ia meraihmu dan menjatuhkanmu dalam jurang terdalam lalu menarikmu kembali ke puncak kehidupan.

Hanya jika ...
Hanya jika, kamu rajin mencatat dan terus menulis quote. Karena kamu tidak akan pernah tahu, kapan cara pandangmu yang cair itu, memadat, lalu menyublim menjadi embun.

Dan kenangan hanya akan menjadi kenangan. Ia tidak memberimu apa - apa.


Jumat, 18 Maret 2016

Insecure

pinterest.com


Assalamualaikum...

Hello, it's scorching hot here in Jakarta and i'm sitting comfy infront of two fans. Haha ... i don't know what's gonna happen with me without these two. I maybe sunk in the sweat i made. Eewh ... 

You know the phrase 'people changes' right, yeah i knew it too. But i really acknowledged it just now. Because i can never think of me change before. I thought i won't ever change and i always be me. Indeed my face feature is the same since i was highschool, i'm still the chubby cheek girl with wide eyes but, i think something is changing inside me.

I was always think of me as a cheerful girl, impulsive, enthusiatic and brave girl. But not anymore. Now as i'm getting aging day by day, i feel more insecure each day. I can't be impulsive and indifferent like i always was. I always worry about what people will think of me. Are they gonna love me? Do they expect me to do this? And stuff. You know what, i never think of me as pretty girl, but i too never feel sooo insecure like this before. I never so worry about my appearance back then, how my face look like or my outfit would fit me well or not. I just go to people talking and laughing, careless about physical appearance. Fashion is not my thing. But now, whenever i look into the mirror, i feel something wrong with my face. I feel so chubby and not pretty. So oldskool and not cool. 

 And somehow i feel so mellow that i wanna hug my self the whole day. I can't approach the future as brave as before, i always worry about tomorrow, what if i get weaker, and dumber and older. I'm coward as the time flies. I'm not the same Tika as before. Which is worse.

And what is make it more worse is, i keep trying to be somebody else. Being pretty, slim and tidy. Talking calmly, look wise and carefully stepping onto something. I've been that type of person lately, and i realize that is not Tika. THAT'S NOT ME AT ALL.

And i feel guilty because i feel like a fake bit*h. 

People keep compliments me and praising about something i am not. These things make me affraid that they might find out who i am really, they will fall in dissappointment and run away from me. I'm affraid they will no longer trust my words, even if i said it sincerely. Because i'm not that wonderful in person. I'm not that shiny, shimmery, person that glow in the dark and cruel world. Sometimes i participate in the cruelty too. Sigh ...

Is this normal, or i'm getting old and feel so coward to approach this huge universe?


Senin, 14 Maret 2016

Pacaran State of Mind

Assalamualaikum ...
Sekarang usiaku 22 tahun, banyak hal terjadi sejak awal aku mulai blog ini sampai sekarang. Segalanya tampak tidak sama lagi. Waktu merubah seseorang, itu benar. Banyak hal yang sudah mampir di kepalaku, beberapa kali opiniku tentang sesuatu hal berubah - ubah. Sekali waktu aku sependapat dengan satu teori, kali lainnya aku sama sekali menolak. Dan itu terjadi ber kali kali kali dan kali. 

Aku bertanya - tanya, apakah ini yang dinamakan pencarian jati diri?

Aku mulai independent dan melihat dalam sudut pandangmu sendiri. Kamu menimbang dan memutuskan sendiri, sesuai referensi pilihanmu sendiri. Aku pikir saat itulah kedewasaan dan kewaskitaan dibentuk. Maka membaca banyak buku sangat membantu di saat seperti ini, dan mengobrol dengan banyak kepala akan memberikanmu banyak pilihan terbentang dan sudut pandang tak terbatas. Aku memilih, menimbang dan memutuskan. Aku menjadikannya pegangan, hingga aku mulai goyah dan menimbang ulang. 

Dan tiba - tiba saja usiaku 22 tahun.

Opiniku tentang dunia banyak berubah. Tentang Tuhan, agama, hubungan antar manusia dan sebagainya. Belajar di sekolah yang bagus, membuat pandanganku tentang Tuhan semakin cemerlang dan jelas, begitu juga agama. Tapi tentang manusia, tidak pernah mencapai akhir. Setiap hari aku bertemu manusia berbeda. Dan mereka semua ajaib. Mereka memikirkan apa yang belum pernah aku pikirkan. Mereka memandang sesuatu dari sudut 360 derajat terbalik dari caraku memandang. Keajaiban ini memaksaku rileks dan belajar. Memandang secara terbalik benar - benar bukan keahlianku. 

Menurutmu, adakah sudut terbalik dari pacaran sehingga ia harus dilakukan?

Sepanjang eksistensiku di bumi, aku tidak pernah memandang 'pacaran' atau 'love coupling' sesuatu yang harus dilakukan manusia. Mungkin karena perbendaharaan kata dalam keluarga kami sangat sedikit, sehingga orang tuaku tidak pernah menyebut yang satu itu. Bapak dan Ibu selalu menyebut 'hubungan lelaki dan perempuan' tanpa kosakata pacaran. Aku hanya mendengarnya dari tv, jauh di balik kaca dan tak terjamah. 

Beranjak remaja aku mulai mengerti. Pacaran? Oh hubungan kasih lelaki dan perempuan yang saling tertarik satu sama lain, entah secara fisik atau karakter. Aku mencoba memahaminya. Karena aku mulai berpikir, kalau aku suka padanya lalu kenapa?

Apakah aku akan pacaran dengannya?
lalu?
Apa yang terjadi kalau aku suka pada seorang lelaki yang ganteng di usia sd?
smp?
sma?

Seseorang bilang pacaran untuk berakhir dalam pernikahan bersama - sama. Tapi siapa yang menikah di usia sekolah?!

Saat aku lulus sekolah, pacaran mulai terdengar seperti kewajiban. Seperti SIM, KTP, KK, semua orang harus punya, setidaknya bisa menunjukkan saat ditanya. Namun sayangnya bersamaan dengan itu pemahamanku akan hubungan lelaki dan perempuan bertambah. Tentang lelaki dan insting alaminya secara umum, dan perempuan dengan perasaan sentimentilnya secara umum. Saat ini aku sadar, pernikahan adalah hal paling serius dalam sejarah eksisitensi manusia. Sakaral, berat, rumit, juga manis tentu saja. Dan pacaran tidak ada separuh dari kesakralan pernikahan. 

Pacaran itu no strings attached. Tidak ada sumpah, janji, legalitas hukum negara dan ikatan dalam nama Tuhan. Pacaran hanya soal perasaan yang samar. Soal cinta yang tidak nyata. Karena tidak ada yang dibuktikan dan dikorbankan. Kenapa manusia harus pacaran? Kenapa wanita harus sakit hati karena lelaki yang bukan siapa - siapa di hadapan hukum? Kenapa lelaki harus selalu menuruti permintaan perempuan yang dia tidak punya tanggung jawab apa - apa di hadapan Tuhan? 

Perempuan itu bisa meninggalkannya kapan saja ...
Lelaki itu bisa meninggalkannya kapanpun dia mau ...

Akan ada banyak hati yang luka. Mata yang berlinangan air mata. Kenangan buruk. Dan jika kamu percaya agama, dosa yang menumpuk.

Entahlah ... 
Usiaku kini 22 tahun, aku bebas dan berhak mencintai siapapun. Aku tidak layak dilukai, dan apa kuasaku melukai hati lelaki bebas dan bergairah di luar sana? Entahlah, aku tidak paham.

Hei, kamu yang pacaran, what is your state of mind actually?




PS : Buat kamu yang pacaran tanpa pernah menimbang perasaan orang tuamu dan agamamu.
       Buat kamu yang pacaran tapi terlalu pengecut memutuskan.
       Buat kamu yang pacaran karena kebingungan.

Aku Merasa, Kamu Juga


Kalo dalam drama komedi romantis yang tokoh utama wanitanya candy candy, biasanya dia akan merasakan cinta sepihak, merasa tidak cantik dan tokoh utama laki - laki mungkin ga akan suka sama dia. 

Dan si tokoh utama laki - lakinya pun sama, dia merasa si tokoh utama wanita ini tidak akan suka laki - laki seperti dia. Jadi dia diam - diam back off. 

Padahal semuanya cuma rasa - rasa yang belum terkonfirmasi.
Hal ini juga terjadi bukan cuma pada pasangan kekasih, tapi juga persahabatan, tetangga, dan jenis hubungan antar manusia lainnya. Karena memang perasaan itu jauh dibalik kulit, dan tidak kasat mata. Demi berhati - hati kita sering meraba - raba. Kita berusaha mengulur perasaan kita yang dibalik kulit, menyusupi perasaan orang lain di balik kulitnya. Terkadang kalo perasaan kita berbalut intuisi yang kuat, apa yang kita rasakan benar. Namun yang salah rasa dan misunderstanding lebih sering terjadi.

Karena perasaan saja tidak cukup. Kata - kata harus mengkonfirmasi. Perilaku harus menvalidasi.
Mungkin perasaan yang tidak terkonfirmasi itu bisa saja salah.Namun satu hal yang pasti. Kalo aku menebak - nebak soal perasaanmu tentangku, dan kamu yang meraba perasaanku tentangmu, itu karena kita saling peduli.