Minggu, 03 Mei 2015

Pernak-pernik




Aku memicingkan mata memandang pernak-pernik bermandikan cahaya matahari di kejauhan. Pernak-pernik itu tampak berkilauan di atas lapangan berpasir. Berlarian kesana-kemari, terkadang menyemburkan tawa kecil yang berisik atau teriakan nyaring yang memekik. Beberapa dari pernak-pernik itu bergulingan di tanah dan berlumuran pasir, lalu bangkit kembali berlarian sambil tertawa riang. Tanpa sadar aku tertawa kecil memandang pemandangan itu. Pemandangan yang teramat lucu sekaligus menghangatkan. Pernak-pernik yang berlarian dalam balutan seragam ungu putih bernoda kecoklatan itu adalah murid-muridku tersayang.
Aku mengusap mataku yang terasa mulai panas karena terlalu lama memandang cahaya matahari. Sudah pukul dua belas, waktunya kembali masuk kelas lalu berdoa pulang. Aku beranjak menuju tempat bel berada.
“Udah waktunya bel Ustadzah.” Aku mengingatkan Ustadzah Hani yang sedang duduk tilawah di belakang mejanya. Ia hanya mengangguk dan tersenyum.
Kupencet bel tiga kali tanda masuk kelas. Kulihat Ustadzah Hani beranjak meletakkan mushafnya di atas meja dan berjalan keluar, bertepuk tangan memanggil pernak-pernik itu kembali ke kelas masing-masing.
Langkah kakiku ke kelas diikuti gemerisik suara-suara seolah-olah energi mereka tidak berkurang setelah bermain. Berdiri di depan kelas seperti biasa, menunggu muridku masuk kelas satu persatu. Seperti laser mataku berkeliling menatap koridor sekolah yang berkeramik ungu, menyortir anak-anak yang masih bergeletakan di luar kelas.
“Ayo… Mas Ahmad, masuk dulu kita berdoa.” Seruku pada anak lelaki berusia 6 tahun yang sedang sibuk bergulingan di depan kelas memegang balok kayu warna-warni. Ahmad hanya menoleh sebentar, lalu kembali mengayunkan baloknya seolah-olah itu robot mainan. Aku membiarkan Ahmad sebentar.
Mataku beralih pada dua anak perempuan yang sedang terkikik berdua, sedangkan kerudung yang sudah lecek tersampir di pundak mereka. “Mbak Zahra, Mbak Fina, ayo masuk dulu. Kita berdoa terus pulang.” Seruku sambil bertepuk tangan. Seperti Ahmad, Zahra dan Fina hanya menoleh sebentar, lalu kembali terkikik.
Dengan gemas aku melangkah mendekati mereka dan meraih kedua lengan mungil yang saling berkait itu. “Ayo masuk, nanti ustadz seret mau?” Tanyaku berpura-pura kesal.
“Mau, ayo seret aku Ustadz.” Jawab Zahra di luar dugaan, sambil memposisikan dirinya menelungkup di lantai, siap diseret.
“Aku juga.” Sahut Fina melakukan hal yang sama.
“Aku juga.”
“Aku juga.”
Tiba-tiba saja berkumpul empat orang anak semuanya menelungkup di lantai, tangan mereka menggapai ke arahku. Senyumku merekah, semakin gemas aku melihat kepolosan mereka. Beberapa ustadzah yang lewat berhenti berjalan dan menengok ke arah kami, lalu ikut tertawa kecil. Aku menyeret mereka bersamaan masuk kelas. Tawa kecil mereka berderai di sepanjang jalan, mengusir rasa penat yang menggelayutiku di tengah hari itu.
“Sudah sampai. Sekarang ayo duduk di bang…” Belum selesai aku bicara suara kecil yang nyaring menginterupsiku,
“Aku duduk sini aja..” Seru Zahra sambil menanamkan pantatnya di atas karpet ungu di dekat pintu, jauh dari bangku-bangku kecil yang berantakan di belakang sana.
“Aku juga duduk sini ya Ustadz.” Seru Ahmad berkomplot.
Seketika semua anak duduk di bawah, meninggalkan bangku mereka. Aku menghela napas, lagi-lagi Zahra memimpin komplotan. Aku mengalah, bersila di atas karpet dan mulai memimpin doa. Sebelum hari semakin siang, karena wali murid pasti sudah berkumpul di depan sekolah menunggu putra-putri tercinta  pulang sekolah.
***
Aku baru saja datang dan menaruh tas di atas meja, saat kulihat Ustadzah Naya masuk kantor menggandeng seorang anak lelaki bertubuh kurus memakai setelan berwarna oranye. Seragam sekolah lain.
“Murid baru Ustadzah?” Tanyaku sambil melambai pada si anak baru.
“Iya Ustadz. Mas Nafis ayo duduk sini sebentar ya, Ustadzah mau ke kamar mandi dulu.” Ujar Ustadzah Naya sambil menggamit ketiak Nafis dan menariknya ke arah kursi kosong di dekatku. Ustadzah Naya melirikku sebentar memberikan kode, lalu segera berlalu ke arah kamar mandi berada.
Kini aku tinggal berdua dengan Nafis, di dalam kantor yang dingin karena AC di pagi hari pukul enam. Aku melirik Nafis diam-diam. Sedari tadi matanya sibuk menatap kesana kemari seperti sinar laser. Kakinya berayun membentur kaki kursi setiap sepuluh detik, sedangkan bibirnya terus bergumam mengeluarkan dengungan yang tidak jelas. Mungkin sebuah lagu? Ia  penasaran, aku penasaran, jadi kuulurkan tangan ke arahnya.
“Namanya siapa Mas?” Tanyaku meski aku sudah dengar namanya.
“Nasif Addul K’arim.” Jawabnya agak belepotan. Ia menyalami tanganku dan menciumnya.
“Nama ustadz, Febri,” Aku memperkenalk an diriku. “Mas Nafis kesini diantar siapa?”
“Ustazah Naya.” Ia mulai mengaitkan jemarinya, tubuhnya berayun perlahan bergerak bergantian bersama ayunan kakinya. Ia butuh kesibukan, dia mungkin aktif.
Aku meraih rubik empat warna di atas mejaku dan menyerahkannya pada Nafis. Ia meraihnya dengan tangannya yang mungil dan balok-balok rubik itu segera bergeser kesana kemari berpindah warna. Aku menatap rubik itu sekilas lalu menatap wajahnya, matanya masih terus berkeliling, sambil jemarinya terus bergerak. Aku berdecak memuji Allah pelan..
“Mas Nafis sudah makan?”  Aku melanjutkan interogasiku.
“Syubah.”
“Sudah?”
“Makan apa tadi?”
“Nasi, saur asem.”
“Sayur asem, hahaha…”
Aku tertawa gemas mendengar ejaan cadelnya, lantas menowel pipinya yang tirus dan meniup poni tipis yang menutupi dahinya. Saat itulah wajahnya mendongak ke arahku dan mata kami bertemu. Selama sepersekian detik, aku pikir aku melihat sesuatu di matanya. Ada ornamen warna-warni yang berkilat dalam bola matanya, mengingatkanku akan ornament warna-warni dalam bulatan kelereng yang sering kumainkan saat aku seumuran Nafis.
Aku mulai berpikir ada yang istimewa dengan Nafis, dan berencana mengorek lebih dalam tentangnya. Namun aku mendengar langkah kaki mendekat, Ustdzah Naya sudah kembali.
“Mas Nafis sudah kenalan dengan Ustadz Febri?” Tanyanya sambil menatap kami berdua bergantian. Nafis mengangguk sekilas dan aku tersenyum sambil mengacak rambutnya.
“Ini anak antum Ustadz.” Kata Ustadzah Naya mengejutkanku.
 “Eh, apa?” Aku memandang Ustadzah Naya.
Ustadzah kepala sekolah itu hanya tersenyum sekilas lalu kembali focus pada Nafis.
“Mas Nafis ke kelas sama Ustadz Febri yaah, belajar sama teman-teman.” Katanya sambil meremas lengan Nafis lembut.
***
Begitu masuk kelas, Nafis segera bergabung dan membaur dengan murid lainnya. Aku melihat Ahmad, Zahra, Qayis, dan Rio mengerubunginya. Menanyainya tentang warna seragamnya yang baru, namanya, dan banyak pertanyaan lucu lain yang sempat membuatku tersenyum.
Tiba-tiba Zahra berlari ke arahku sambil menunjuk Nafis.
“Ustadz, kok Nafis ngomongnya suka kebalik sih?” Tanyanya sambil sesekali kembali menunjuk Nafis. Aku tersenyum.
“Kebalik gimana mbak Zahra?”
“Masa bilang baju ‘daju’.”
“Betulkan dong Mbak…” Aku menowel pipinya lembut.
“Udaah, tapi diulangi terus.”
Kami tertawa bersama lalu dengan sedikit ayunan tangan dan lagu kami duduk rapi di bangku masing-masing dan memulai doa sebelum belajar.
***
Matahari sudah setinggi tombak. Seperti biasa, aku melambai menyuruh pernak-pernikku masuk kelas lalu berdoa pulang. Setelah itu segera kebereskan berkas tugas anak-anak untuk kubawa pulang. Aku mengusap tengkukku, hari ini tidak terlalu panas. Alhamdulillah. Aku menatap lembar kerja Nafis dan sekilas kulihat tulisannya yang terbalik. Dahiku lantas mengernyit. Baru sadar, sudah sebulan sejak pertamakali Zahra bercerita tentang bicara Nafis yang terbalik. Kutemukan juga ia sering menulis terbalik saat mengoreksi lembaran kerjanya.
Nafis juga kesulitan menyebutkan warna pelangi meski melihatnya di depan mata. Ia juga kebingungan mengurutkan angka. Tapi Nafis tidak bodoh. Ia selalu aktif, ceria dan pandai bernyanyi. Terkadang saat sedang sendirian, diam-diam kuamati ia sedang bergumam tidak jelas.
Aku mempercepat beres-beresku dan segera pulang. Di rumah, aku segera menyalakan sambungan internet dan mengetik keyword “Berbicara sering terbalik sindrom”, “Tidak bisa menyebutkan warna” Kudapati banyak kemungkinan sindrom, aku mengetik salah satu laman dan menemukan cirri-ciri Nafis di sana. Aku menggeleng tak percaya.
***
Keesokan harinya aku berniat memanggil orang tuanya ke sekolah. Aku menemui Ustadzah Naya dan mengkonsultasikan ini dengannya. Di jalan menuju ruangan kepala sekolah aku melihat Nafis dan Zahra duduk bersebelahan. Mereka cepat sekali akrab. Zahra terlihat memperhatikan Nafis dan menirukan apa yang diucapkannya. Aku harap Zahra tidak sedang mengejek Nafis.
Aku sampai di ruang kepala sekolah dan melihat Ustadzah Naya sedang duduk menghadap layar computer.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam… masuk Ustadz.”
“Saya sepertinya mau panggil orang tua nafis Ustadzah.”
Ustadzah Naya menoleh sebentar, “Kenapa ustadz?”
“Sepertinya… mas Nafis berkebutuhan khusus. Butuh perhatian lebih ustadzah.” Ujarku ragu-ragu.
“Maksudnya?” Ustadzah Naya sepenuhnya menghadapku.
“Sepertinya Mas Nafis disleksia.”
Ustadzah Naya menatapku, kaca matanya melorot sedikit.
“Hmm… orang tuanya agak sulit dihubungi Ustadz.” Keluh ustadzah Naya sambil melipat kedua tangannya di atas meja.
“Harus diberitahu orang tuanya Ustadzah, kalo nggak Mas nafis bisa ketinggalan banyak sama teman-temannya.”
“Orang tuanya dua-duanya pengusaha, sibuk dan jarang di rumah. Sehari-hari Nafis diasuh sama mbak pengasuhnya.”
“Biar saya home visit ke rumah Mas Nafis kalo gitu.” Tegasku. “Paling tidak saya bisa berpesan sama pengasuhnya.”
***
Saat istirahat kulihat Zahra kembali berkutat di sekitar Nafis. Kali ini ia bersama lebih banyak anak duduk mengelilingi Nafis. Aku jadi tertarik dan duduk di dekat mereka. Kudengar mereka mengikuti Nafis bersama-sama. Aku mendekatkan tempat dudukku dan menajamkan pendengaran. Lamat-lamat kudengar potongan surat An-Naba’ yang dilantunkan Zahra dan komplotannya mengikuti Nafis. Aku terkesima menatapnya. Ternyata Nafis sedang memimpin teman-temannya menghapal Juz Amma.
Seusai sekolah kuminta alamat Nafis dari bagian arsip dan berniat mengunjungi rumahnya. Seperti kata Ustadzah Naya, hanya ada para pembantu dan Mbak pengasuh yang menemani Nafis. Kuutarakan maksud kedatanganku pada Mbak Marina, pengasuhnya dan kutitip pesan padanya bahwa aku akan datang lagi menemui Ayah Bunda Nafis lain kali.
***
Bel pulang sudah berbunyi sejak tadi. Gerombolan wali murid yang menunggu di depan sekolah juga mulai menipis. Aku mengajak nafis duduk bersisian di bawah pohon di tepi lapangan, tempat anak-anak biasa bermain.
“Mas Nafis bisa baca tulisan itu nggak?” Seruku tiba-tiba sambil menunjuk plang besar di depan sekolah.
“Mmm… sulit.” Katanya setelah mendongak memandang plang itu cukup lama.
“Kenapa sulit?” Aku memeluk pundaknya. “Ayo kita baca sama-sama.”
“T…, K…, I…,” Kami mengeja bersama-sama lalu kemudian Nafis menunduk menggelengkan kepalanya.
“Kenapa Mas?” Aku mengusap rambutnya.
“Pusing.”
“Pusing kenapa?”
“Itu goyang-goyang.” Jawabnya sambil mulai menggerak-gerakkan kakinya.
“Apanya yang goyang?”
“Tulisannya goyang-goyang ga bisa dibaca.”
Aku mengangguk mengerti. Dalam artikel yang kubaca di internet juga disebutkan bahwa huruf-huruf terlihat bergerak sehingga sulit dieja bagi penderita disleksia.
Kami terdiam cukup lama menikmati semilir angin yang terkadang bertiup menyejukkan. Tiba-tiba kudengar gumaman khas itu lagi. Aku mendekatkan tubuhku pada Nafis agar mendengar lebih jelas.  Ia melirikku dan dengan sengaja mengeraskan gumamannya. Aku bisa mendengar dengan jelas dan terkejut menyadari apa yang selama ini digumamkan Nafis. Sontak aku memeluk Nafis dengan erat. Aku menangis mengingat kunjungan singkatku ke rumahnya kemarin. Mbak Marina meminta maaf bahwa Nafis agak bodoh dan sulit diajari. Aku berteriak dalam benakku. Tidak ada anak yang ‘agak bodoh’ yang bisa melafalkan ayat-ayat dari surat Ar Rahman dengan lancar dan indah seperti ini.
“Mas, besok setiap pulang sekolah duduk di sini sama ustadz ya. Kita belajar membaca, kita coba baca meskipun tulisannya goyang-goyang.” Mataku sembab tanpa terasa.
***
Aku sedang jongkok di atas karpet menatap anak-anak yang sedang menggambar sambil rebah tidak beraturan. Zahra tiba-tiba bangun mengibaskan kertasnya yang bergambar lingkaran besar sekali, lalu berjalan mendekatiku. Ada coretan krayon di pipi tembemnya.
“Ustadz, Nafis kenapa sih kok ga masuk terus?” Tanyanya sambil melanjutkan gambarnya di sampingku.
Refleks aku memandang loker nafis di seberang ruangan. Sudah tiga hari pernikku itu tidak masuk sekolah. Sopirnya yang sering mengantar meng-sms ku, katanya Nafis sakit panas.
“Mas nafis sedang sakit Mbak, didoakan ya semoga cepat sembuh.”
Aku ingat saat kami biasa duduk di bawah pohon di pinggir lapangan. Setelah berhasil menghapal huruf abjad, aku memintanya membacakan untukku ayat Qur’an yang dihapalnya.
“Yang mana?” Tanyanya sambil memandangku dengan bola mata kelerengnya.
“Yang pernah dibaca Mas Nafis di sini.”
Ia memandangku sebentar, lalu diawali dengan taawudz kalimat-kalimat Tuhan itu mengalir lancar dari bibirnya. Ayat demi ayat dilafadzkan dengan sangat jelas dan tartil. Suaranya memang tidak semerdu qari’ cilik yang terkenal itu, namun kefasihan bacaannya istimewa untuk anak seusianya. Surat Ar-Rahman selesai, lalu ia lanjut ke surat setelahnya. Aku terkesima di sampingnya.
“Siapa yang ngajari mengaji mas?” Tanyaku setelah ia menyelesaikan bacaan surat Al-Waqi’ah-nya.
Iya hanya menggeleng pelan. Membuatku semakin penasaran.
“Di masjib kan ada naji, aku deneri aja.” Mendengar jawabannya yang terbata, seperti ada air es yang menetes tepat di atas dadaku. Perasaan buncah itu tiba-tiba menggelembung memenuhi jantungku lalu dengan lembut membasahi pelupuk mataku. Sejak bertemu Nafis ntah sudah berapa kali aku menangis seperti ini.
Tepat setelah lamunanku berakhir, Ustadzah Rina, menghambur masuk ke kelas dan membisikkan kalimat dengan isyarat jemari di telinga.
“Ada telepon, dari walinya Nafis.”
Aku pamit pada anak-anak sebentar dan berlari menuju telepon di kantor guru.
***
Aku segera berlalu menuju rumah nafis setelah menerima telepon dari Ayahnya di sekolah. Seorang lelaki berpenampilan necis membukakan pintu untukku. Dengan serta merta aku dipeluknya dan diarahkannya aku menuju kamar nafis di lantai atas.
Yang pertama kali ditangkap inderaku adalah sosok Nafis di atas kasur. Tiang infus beserta kabelnya melilit di sebelahnya. Aku mengucap salam. Seorang wanita yang juga Bunda Nafis menjawab salamku. Nafis menoleh, mata kelerengnya segera menemukanku.
“Apa kabar Mas Nafis… cepat sembuh yaa. Teman-teman sudah kangen sama mas Nafis.” Aku mengusap pipinya yang makin tirus. Ia tersenyum.
“Iya Ustadz, mas Nafis rewel terus ini maemnya.” Sahut Bundanya sambil berdiri di sisi ranjang lainnya.
“Kenapa kok rewel?” Aku memandang Nafis. Ia hanya menggeleng lemah.
“Katanya mau ditemani Ustadz Febri, sekarang maem yaaa…” Seru Ayah Nafis yang berdiri di dekat pintu kamar, sambil tangannya bergerak memberikan isyarat pada pembantu untuk mengambilkan Nafis makan.
“Ayo maem, Ustadz suapi yaa.” Tambahku cepat.
Lalu adegan berikutnya adalah Ayah dan Bunda Nafis duduk di seberang ranjang menatapku menyuapi Nafis, yang akhirnya mau makan. Sekilas aku menangkap getar cemburu di wajah mereka. Mereka melewatkan momen penting dalam hidup Nafis pada orang asing sepertiku.
Setelah Nafis selesai makan dan minum obat, aku diajak Ayah dan Bunda Nafis mengobrol di ruang tamu.
“Begini Ustadz, mohon maaf terus terang saya bingung waktu Nafis menyebut-nyebut nama Ustadz Febri waktu menangis.” Aku menyimak muqoddimah Bunda Nafis. “Terus saya Tanya Mba Mar, katanya itu ustadznya Nafis yang pernah kesini. Jadi mohon maaf merepotkan saya minta datang ke rumah.”
“Nggak papa Bunda, kebetulan sekali saya pingin ketemu secara pribadi sama Ayah dan Bunda.”
“Ada apa Ustadz?”
“Begini, Mas Nafis ini ada gejala disleksia.” Aku terdiam sebentar menunggu reaksi mereka. “Disleksia itu sindrom kesulitan membaca dan mencerna perintah verbal.”
“Iya padahal sudah sering saya ajari membaca bahkan saya datangkan guru privat.” Potong Ayah Nafis defensif.
“Bukaan… disleksia bukan berarti anak malas belajar. Disleksia berhubungan dengan meneruskan kata-kata verbal pada memori pada otak. Namun anak-anak disleksia tidak bisa mencerna bahasa dan kata-kata baik secara lisan atau tulisan seperti anak non disleksia pada umumnya, sehingga sering disalah artikan sebagai malas belajar dan bodoh.” Aku menelan ludah, “Tanda-tandanya adalah kesulitan konsentrasi, tidak fokus, sulit membaca dan mengurutkan sesuatu, tidak bisa membedakan atas, bawah, kiri, kanan, sering terbalik saat berbicara.”
Aku menarik napas, sambil mengamati ekspresi wajah Ayah dan Bunda Nafis yang masih tampak belum paham.
“Jadi… harus bagaimana Ustadz?” Bunda Nafis bersuara.
“Jadi, sebaiknya mas Nafis dibawa ke psikolog dulu untuk lebih jelasnya. Lalu berikutnya peran orang tua sangat krusial di sini. Jadi tidak boleh dikatai ‘bodoh’ atau ‘malas’, didampingi terus saja belajarnya dan sering dipeluk.” Aku tersenyum mengakhiri ceramah pas pasanku.
“Mohon maaf Ustadz Febri ini sudah berkeluarga atau…” Tanya Ayah Nafis tiba-tiba.
“Mmm… belum.” Aku tersenyum malu. Aku satu-satunya pria dan berstatus single di sekolah.
***
Aku menatap Zahra, Ahmad,Nafis dan yang lainnya melingkar di koridor sekolah. Sudah lima bulan sejak aku bertemu nafis pertama kali di ruang guru, dan sudah dua bulan sejak aku datang menemui Ayah dan Bunda Nafis. Sekarang ia semakin pintar mengeja dan menyebutkan warna. Semenjak orang tuanya mulai meluangkan waktu untuk menemaninya belajar di rumah. Ia juga semakin akrab dengan teman-temannya. Kerap kali kulihat ia duduk memimpin lingkaran seperti ini, lalu menalaqqi teman-temannya hapalan juz Amma. Seperti halaqah orang dewasa saja.
Bel masuk berbunyi nyaring. Waktu istirahat berakhir ditandai dengan sempurnanya matahari di atas kepala, dan panasnya yang menyilaukan. Dengan enggan kutinggalkan pemandangan unik di depanku itu dan seperti biasa aku berteriak di pinggir lapangan. Memanggil pernak-pernakku masuk kelas.. Pernak-pernik yang tidak pernah berhenti berkilau meski tidak disinari matahari. Yang setiap butirannya unik dengan orisinalitas masing-masing. Tempaan lingkungan dan pengalaman hiduplah yang akan membentuk kepribadian mereka yang sesungguhnya nanti. Yang membuatnya semakin berkilau, atau pudar tak berharga. Aku hanya berharap para orang tua menyadari kilau pernak-pernik ini dan mengerti cara memolesnya agar semakin kinclong. Seperti beberapa manic-manikku yang sedang melingkar di sana.

Minggu, 22 Februari 2015

Kutu Alin








“Aaah… dapet satu… kena kau!” Dengan gemas Alin menekan ujung kuku jempolnya ke lantai, mengenai serangga kecil yang menggeliat tak berdaya.
“Iih… kecil banget, pantas saja gatalnya bukan main. “ Oceh Alin masih gemas. Dengan jengkel ia terus menyisir rambutnya dengan kencang hingga menimbulkan suara yang membuat Mama menoleh. Alin sedang duduk di lantai dengan tangan menggenggam sisir rapat dan rambut terjulur menutupi wajahnya. Di depannya ada kertas putih seukuran A4  yang dipenuhi titik-titik kecil berwarna hitam belepotan.
“Kamu itu nyisir rambut atau ngapain siih… kencang banget.”
“Iih… mama ga tau sih gimana gatalnya kepala Alin… NAAH… DAPAT SATU LAGI!” Teriaknya tiba-tiba.Ke sekian kalinya Alin menekan kuku jempolnya ke lantai.  Mama yang sedang sibuk memisahkan biji petai dari kulitnya hanya geleng-geleng kepala.
“Oiya… Lin, tadi dicariin Hima lho… “ Kata Mama.
“Males ah ma… males keluar.”
“Kamu udah seminggu ga keluar rumah, kamu mau semedi di rumah bersama hewan peliharaanmu itu?” Sergah Mama jengkel.
“Tau ah… Ma. Kutu sialan!” Umpat Alin sambil beranjak ke kamar.
***
Hari ini sudah sebulan Alin tidak mau keluar rumah selain ke sekolah dan hanya berkutat dengan rambutnya. Tiap hari ia mengeluh sambil menyisir rambut dan menindas kutu rambut di lantai. Sudah 5 botol peditox habis dipakai, tapi sepertinya kutu rambut Alin betah tinggal di rambut Alin yang panjang, dan lebat. Mama menyarankan banyak sampo dan obat-obatan alternatif  selain peditox. Namun kesabaran Alin sudah diambang putus asa. Ia memepertimbangkan untuk mencukur habis rambutnya agar bisa terbebas selamanya dari monster rambut ini.
Tiba-tiba Alin keluar dari kamarnya dan mengagetkan orangtuanya di ruang keluarga.
“Ya Allah… anak mama. Makin kaya di filem hantu aja sih.” Pekik mama melihat tampilan Alin yang misterius dengan wajah tertutup rambut panjangnya.
“Sisiran dong nak… masa gitu.” Papa meraih tangan Alin dan mengajaknya duduk di sampingnya. Pria paruh baya itu menyibak rambut Alin sambil berdecak, seolah-olah melihat banyak kutu.
“Iih papaaaaa…” Buru-buru Alin menyingkirkan tangan papanya merapikan rambutnya yang berantakan.
Dengan rambut tersibak dan ekspresi yang dilebihkan, Alin menatap papa dan mamanya bergantian, “Alin mau ke salon.”
“Iih… malu lah Lin, kutuan begitu. Udah dibersihin dulu kutunya baru ke salon…”
“Alin mau cukur plontos ma.”
“Apa?” Sentak Mama dan Papa bersamaan.
“Aneh-aneh aja, gausah.” Mama buru-buru melarang.
“Biar ilang semua kutunya, dan ga balik lagi.”
“Masa perempuan plontos sih… ga bagus ah dilihatnya.” Sahut Papa.
“Alin udah capek kutuan maa..” Sentak Alin.
“Tapi tetep aja bukan plontos caranya nak…!” Mama menghela napas kesal.
Namun Alin sudah ngeloyor pergi, tidak membiarkan siapapun menggoyahkan keputusannya.
***
Alin menunduk menatap gumpalan hitam yang berserakan di lantai keramik di bawah kakinya. Mati-matian ia menahan air mata yang mulai memanasi matanya. Ia tidak boleh menangis, ini adalah keputusannya sendiri.  Pelan-pelan ia mengangkat kepalanya dan menatap cermin. Ia mengamati penampilan barunya yang berbeda, dan aneh.  Wajahnya jadi terlihat lebih bundar dengan kepala plontos. Pipinya terlihat lebih chubby dan dahinya terlihat lebih lebar. Alin baru menyadari, ternyata peran rambut sangat penting bagi wanita.  Ia lambang keagungan seorang wanita. Ia melambangkan kekuatan karakter skaligus kelembutan fisik seorang wanita. Sekarang wajahnya kehilangan semua itu. Semuanya tampak kosong, mahkotanya seperti terenggut. Penyesalan yang sempat pergi itu kembali merasuki dadanya, dengan menatap rambutnya yang berserakan di bawah kakinya, ia membiarkan air matanya jatuh. Ia tidak peduli pada mbak – mbak kapster yang menatapnya heran, juga pengunjung salon yang duduk di sebelahnya. Ia menaruh kepalanya di atas siku dan  mengizinkan dirinya menangis sesenggukan setelah memangkas habis rambut panjangnya. Meskipun ini pilihannya sendiri.
***
Setelah pulang dari salon, Alin semakin jarang keluar kamar. Meskipun kini masalah kutunya sudah selesai, ternyata tidak punya rambut adalah masalah baru.  Alin jadi tidak percaya diri keluar kamar, meski di depan keluarganya sendiri. Ia terus duduk di depan meja rias sambil mengelus kepala plontosnya. Sesekali ia masih merasa menyesal dan sakit hati, tapi setiap detik ia mengingatkan diri sendiri bahwa plontos lebih baik daripada punya rambut berkutu. Ia memperhatikan pantulan wajahnya di cermin dengan seksama. Besok hari senin, bagaimana caranya ia pergi ke sekolah dengan kepala plontos seperti ini?
“Cklek…” Tiba-tiba Mama masuk ke kamarnya.
“Sudah jangan ngaca terus, nggak usah disesali. Mama bilang juga apa, cewek ga baik plontos.”
Alin memandang mamanya dari cermin dengan cemberut. Sudah tahu ia menyesal masih saja Mama mengomel.
“Sini mama punya sesuatu buat kamu.” Lambai Mamanya dan menyuruhnya duduk di kasur.
Alin mendekat, ia bisa melihat bungkusan plastic di pangkuan mamanya.
“Ini…, pake ini besok ketika berangkat ke sekolah.” Mama menyerahkan lipatan kain berwarna putih pada Alin.
“Ini apa Ma?”
“Itu kerudung nak.”
Alin tercekat memandang Mamanya.

***
Alin akhirnya memakai kerudung ke sekolah, setelah harus diyakinkan papa dan mama berkali-kali. Ia berjalan menuju kelas dengan tidak percaya diri. Begitu sampai di kelas, seperti yang sudah diprediksi, semua temannya heboh melihat penampilannya.
“Ya ampun Aliiiin… lu tobat?” Teriak Hima sahabatnya pertama kali.
“Aliin lu kenapa, lu botak ye?”
“Gapapa Lin, makin cantik.”
“Ya Allah bu hajiii…!”
Bermacam komentar bersahutan memenuhi kelas, ada beberapa yang tersenyum dan memeluknya. Menyelamatinya dan mendoakan agar istiqomah dengan tulus. Alin jadi malu pada mereka yang tulus menyelamatinya. Tujuannya memakai kerudung sama sekali tidak layak untuk diselamati. Namun diam-diam ia berterimakasih dan mengamini dalam hati.
***
Semenjak memakai kerudung perilaku Alin berubah. Ntah kenapa Alin juga tidak mengerti. Ia merasa harus menyesuaikan perilakunya dengan penampilannya yang baru. Meskipun hanya sampai rambutnya kembali tumbuh dan panjang. Sampai sekarang ia belum member tahu teman-temannya alasannya berkerudung. Biarlah mereka kira ini hidayah, ia juga berharap ini hidayahsesungguhnya.
Alin bukannya tidak tahu bahwa kerudung adalah pakaian wajib seorang wanita muslimah ketika telah baligh. Hanya saja ia masih ogah-ogahan memakainya. Terkadang ia memakai kerudung saat ada pesantren Ramadhan di sekolahnya, atau saat mendatangi pengajian minggu pagi di masjid lingkungan rumahnya. Ia merasa ia belum pantas memakai kerudung dan harus berperilaku alim seperti teman-temannya yang remaja masjid. Sekarang setelah tidak sengaja berkerudung, ia harus menyesuaikan perilakunya yang dirasanya kurang sesuai.
Alin jadi mengurangi tertawa keras-keras dan duduk di atas meja. Ia juga menahan diri untuk tidak berlarian di koridor sekolah sambil menjahili teman-temannya. Jika biasanya ia mudah sekali mengumpat saat kesal, kini Alin berusaha ingat untuk istighfar. 
Alin juga jadi sering nongkrong di masjid. Biasanya ia malas ke masjid sekolah kecuali untuk sholat dzuhur. Kini iseng-iseng Alin duduk-duduk di masjid, penasaran dengan apa yang dilakukan teman-temannya yang anak masjid. Tiba-tiba saja matahari bersinar sangat terik, Alin masuk ke dalam dan mencari tempat duduk di bawah kipas angin. Ia bertemu Hana, teman sekelasnya. Ia sedang duduk di bawah kipas angin membaca Qur’an.
“Hei… Hana, kamu lagi… baca Qur’an?” Alin membungkuk untuk melihat buku yang dibaca Hana.
“Iya, eh Alin ngapain? Habis sholat?” Hana menutup Qur’annya dan menaruhnya di tas kecil di sampingnya. Mata Alin mengikutinya.
“Kamu bawa Qur’an ke sekolah?” Alin tidak menjawab, malah balik bertanya sambil duduk bersila di depan Hana.
“Iya.” Jawab Hana sambil tersenyum manis. “Oiya, pekan depan ada kajian ahad pagi di masjid ini, kamu datang ya.” Pinta Hana sambil menggenggam lengan Alin. Alin memandang tangan Hana yang menggenggamnya. Ntah mengapa ada perasaan hangat yang menyeruak di dada Alin, yang membuat Alin ingin dating ke pengajian.
“Iya, insyAllah.” Jawab Alin sambil balas tersenyum. Setelah itu Alin hanya duduk di samping Hana, mengobrol.  Alin bertanya banyak hal pada Hana. Teman sekelasnya yang jarang ia ajak ngobrol sebelumnya. Alin bertanya mengenai kerudung, rohis dan mengapa Hana membawa Qur’an kemana-mana.
“Kamu nggak gerah?” Tanya Alin setelah mendengar cerita Hana yang berkerudung sejak kecil, dan dari ceritanya, kerudung Hana menjadi semakin lebar seiring pengetahuan agamanya bertambah. Kini kerudung Hana menutupi bahu dan menjulur ke dada.
“Kamu?” Hana balas bertanya.
“Gerah bangeeeet!” Alin langsung mengibaskan kerudungnya dengan dramatis.
“Hahaha… aku juga laah.” Hana menepuk bahu Alin otomatis. “Mmm… gini, kamu suka olah raga?” Tanya Hana.
Alin menggeleng kencang. Hana tertawa melihatnya.
“Nah … gimana rasanya kalo kamu disuruh skotjam 10 kali?” Mata Alin langsung melotot.
“Pasti bakal sakit semua tuh, ga bakal bisa jongkok sebulan.”
“Nah sama seperti itu, segala hal yang baru yang belum pernah kita lakukan akan sangat berta saat pertama kali dilakukan. Begitu juga dengan kerudung, kalo pertama kali pake, pasti terasa gerah sekali.”
"Tapi aku belum alim..." Gumam Alin ragu.
"Di dunia ini siapa yang terlahir alim Alin..., kita semua terlahir tidak mengerti apa-apa. Makanya kita terus belajar sambil mempraktekannya. Emang aku sudah alim." Terang Hana diikuti tawa renyah.
Mendengar  penjelasan sederhana yang diutarakan Hana, Alin jadi mengangguk mengerti.  Memakai kerudung dalam kehidupan sehari-hari adalah hal baru baginya, maka sudah wajar kalau ia terus merasa gerah sepanjang hari di sekolah. Namun setelah ia terbiasa, ia tidak akan merasa terlalu gerah lagi, sama seperti Hana. Dan bersamaan dengan itu ia harus terus belajar. Semua manusia pasti begitu. Tapi benarkah ia akan terus memakai kerudung? Alin menunduk menatap ujung kerudungnya, ia masih belum tahu jawabannya.
***
Seminggu berlalu sejak obrolan Alin dengan Hana. Hari ini hari Ahad, Alin bangun pagi-pagi sekali menyiapkan kerudung yang akan dipakainya untuk datang ke pengajian di masjid sekolah. Ia duduk di depan meja rias dan sedang berusaha menata kerudung di atas kepalanya. Tiba-tiba Alin berubah pikiran, ia ingin mencoba pakai kerudung seperti Hana. Kerudung panjang yang menutupi bahu dan menjulur ke dada. Ia mencari tutorialnya di google dan dengan bantuan Mama, Alin berhasil memakainya.
Alin terus mematut dirinya di depan cermin dengan kerudung model barunya. Sekarang kegiatan ini mulai menjadi kebiasaannya setiap pagi, sejak kepalanya plontos dan pakai kerudung. Alin jadi tersenyum sendiri mengingatnya. Kalau saja rambutnya tidak kutuan dan ia memutuskan untuk cukur plontos, tentu saja ia tidak akan pernah berpakaian seperti ini. Baju muslimah dan kerudung panjang.
Anggun. Bisik hati Alin terharu sendiri. 
“Kamu pantas banget pake kerudung nak.” Sahut Papa tiba-tiba seraya menepuk bahunya.
Alin tersenyum melalui cermin. “Makasih Pa.”  Lalu kembali menatap pantulan wajahnya sendiri.
Apakah aku akan terus pake kerudung?
Alin mengangguk menjawab pertanyaan dalam batinnya. Saat rambutnya berceceran di lantai sebulan yang lalu, ia sedih sekali karena merasa identitas kewanitaannya telah hilang. Sekarang rambutnya mulai tumbuh perlahan, namun ia memilih melindunginya dengan kerudung.  Ia merasa pantas dan percaya diri memakainya.  Ia ingin mencoba berpakaian seperti Hana. Ia ingin mencoba menangkap hidayah yang teman-teman pikir Alin dapat sebulan yang lalu dan yang pasti, rambutnya juga tidak akan mudah tertular kutu. Dalam hati ia merapal basmalah, lalu melangkah menyalami Mama dan Papanya di ruang tamu.
“Hati-hati ya nak… “
“Iya ma… Assalamualaikum.” Seru Alin sambil bergegas keluar rumah.
Mama dan Papa hanya berpandangan penuh arti melihat kepergian Alin. Hari ini pasti spesial, karena seumur hidupnya Alin jarang sekali mengucap salam.

                                                                                                      

Kamis, 11 Desember 2014

Tuhan Maha Romantis


Assalamualaikum...
Apa kabar... 

Datang yuk ke acara Talkshow dan Bedah Buku "Tuhan Maha Romantis" bersama Azhar Nurun Ala
di Masjid Al Ikhlas Jatipadang - Pasar Minggu
Ahad 21 Desember 2014
 Pukul 07:00 - 12:00

Akan ada: Doorprize meriah, Nasyid, Stand buku Tuhan Maha Romantis,
Snack, Seminar KIT dan masih banyak lagi.

HTM : 10000 ONLY!!

AYO TUNGGU APA LAGI SEGERA DAFTAR KE;

Format: TMR_Nama_Instansi kirim ke 087702679080 (whattsapp)


Jumat, 07 November 2014

Talking to You






 Assalamualaikum... Apa kabar?
Anyway... comeback kali ini sekalian mau curhat hu...hu...hu...

One day... which is really fine day, aku ngobrol sama cowok. Biasalaah... sejak awal aku selalu terbuka dalam hal hubungan lawan jenis. Aku percaya cowok dan cewek seharusnya bisa berteman, tanpa harus jatuh cinta. Kalaupun saling jatuh cinta, yaa rezeki itu mah. Tapi tetap harus syar'i. Berteman baik dengan cowok bukan berarti trus bisa jalan berdua dan berdekat-dekatan. Itu tetep ngga boleh lah... kan ada aturannya dalam Islam.Berteman berteman aja, ga usah modus mblo!

Kembali ke acara obrolanku tadi... Jadi ceritanya kita ngobrol lewat wasap. Udah cair banget laah kaya udah kenal ribuan tahun terus dipertemukan kembali oleh R*TI. Kita ngobrol ngalor ngidul, ini itu dibahas semua. Padahal belum pernah ketemu!! Canggih kan! But somehow... cowok itu, anggap saja namanya Akar, punya persepsi berbeda menanggapi keakraban kita. Dia mulai sering ngomong hal yang cheesy gitu deh. Aku sih mesem ajalah. Ga menanggapi lebih lanjut. Tapi kayanya Akar seneng banget ngegodain aku. Aku ga yakin juga dia sungguh-sungguh ama omongannya itu, aku juga ga GR gitu aja. Secara aku kenal lah tabiat cowok. *smirk Tapi aku tetep aja lanjutin obrolan kita, dengan niat pertemanan yang tulus. Serius... pingin punya teman cowok yang awet ampe tua, trus dikenalin ama cucu-cucuku hehehe.Tapi karena Akar udah mulai ngasih sinyal ga sehat, hatiku udah mulai ragu, dilanjutin ganih? Setelah menimbang-nimbang antara maslahat dan mudhorot... yang menang adalah kebandelanku. Kita tetep lanjut wasapan... makin asik...makin renyah...udah kaya pilus garuda aja. Namun suatu ketika ditengah-tengah obrolan aku gasadar lemparin kalimat-kalimat rancu semacam...

"Pingin main ke rumahmu dong..." Doeng!!

Iya iya... aku tahu. Kalian kira aku modus kan, kode-kode buat pingin dilanjutin... Kode-kode kalo aku ada rasa? Jawabnya Bukan! Nggak ada modusisasi dalam kamusku. kalo suka bilang, kalo ga, ya gausah bilang kaleus... ntar berantem *lemparsendal 

Sometimes... aku lupa kalo aku ini cewek. Dan para cowok pasti ngeliat aku sebagai cewek. Kelakuan, omongan bahkan emoticon chatting semua kecewekan. Coba kalo kamu denger kalimat di atas dari cowok? Everithing's gonna be ok kan? Tapi aku lupa, aku cewek! Jelas aja kalimat kaya gitu terdengan modus... gembel! Padahal aku serius mau main ke rumahnya, kenalan sama Umminya, sodaranya, main, numpang makan, dibagi sangu *plak hehe... semuanya sebagai temen. Iyaaa.. TEMEN. Jadi ga ada niatan buat menyuruhmu meminang aku kang mas... ga ada. *lapingus

Terus... sometimes aku juga suka keasikan melebarkan perkenalan. Sambil sok iye... aku sebutin semua temennya yang aku kenal juga. Aku sebutin beberapa temen sekelasnya, kan bangga nih kita punya beberapa teman yang sama, kaya di facebook tuh. Aku tanyain kenal Daun ga? Kenal Ranting ga? Karena dia sekolah di sekolah khusus cowok dan aku di sekolah khusus cewek, otomatis yang aku tanyain cowok semua dong. Tapi aku lupa! Kalo cowok itu punya semacam pride and jealousy, mereka gasuka kalo cewek ngobrolin cowok lain depan mereka. Tapi sekali lagi aku lupa, aku memposisikan diriku sebagai teman manusia, bukan teman cewek yang lagi PDKT! Jadi aku gasadar kalo aku udah mengganggu perasaannya. Apalagi salah satu temen yang aku tanyain sahabat dia, dia otomatis ngebayangin adegan ftv gitu kan... semacam...

Akar : Apa jadi lu mainin gue? Ngapain lu screwing hubungan gue ama sahabat gue hah? Lu berusaha ngadu domba kita? bla... bla...bla...

Waah... gaenak banget kan... kayanya aku bukan cewek baik-baik, yang tiap hari mandi pake sabun dan rajin ke sekolah. Disangkain kaya gitu tuh sakitnya di sini lho! Padahal demi Allah aku cewek baik. Tanyain deh ama teman sekosku, murabbiku juga boleh *inibarumodus *plak 

Tapi yaa... gitu deh kalo nekat bergaul akrab sama cowok yang bukan mahram, pasti ada fitnah. Fitnahnya macem-macem... bisa muncul rasa cinta, padahal belum siap nikah. Bisa muncul dzon dzon yang gaenak, dan bisa muncul stereotip jelek masyarakat sama perempuan. Makanya... fa 'alaina an nuhafidzo nafsana min hadzal 'amal. Stop... kalo kamu ga sekuat itu, jangan deeh main-main sama perasaan. 

 Dan buat kamu, iyaaa kamu. Eciyee... aku kamuan niih... *plak *lemparinbata buat ente deh. Maaf ya... ane minta maaf banget, mungkin tanpa sengaja udah menyinggung perasaan ente, udah mengganggu hari-hari ente. Mungkin semua tulisan cuma keliatan kaya alasan aja. Tapi ane tulus mau jadi temen tanpa harus dibikinin seribu candi. Ane harap kita ga awkward stelah ini, andaikan, biidznillah kita ketemu lagi, semuanya wajar. Ane tetep nunggu undangan ke rumahnya lho... Dan traktirannya jangan lupa!! Awas ntar ane tagih sampe pelaminan.!!


Sincerely yours,
Princess




Selasa, 21 Januari 2014

Langsing???



Semua orang terlahir dengan obsesi dan cita-cita masing-masing. Ada cita-cita yang berubah seiring bertambah usia, ada juga cita-cita paling orisinil sejak lahir. Cita-citaku dari dulu pingin banget bisa jalan-jalan ke luar negeri dan menguasai macam-macam bahasa asing. Rasanya asik aja kalo kita bisa ngomong bahasa orang lain, apalagi yang ga umum diajarin di sekolah. Kaya Rusia, Ibrani, Italy, Korea, banyak deh... apalagi yang kuno-kuno gitu.

Nah aku juga punya cita-cita orisinil sejak lahir, atau lebih tepat obsesi sih. Yaitu pingin langsing. Kenapa... ga terlalu orisinil yah? 

Aku udah terlahir dengan pipi chubby dan postur yang ga langsing. Meskipun aku udah lari-lari di bawah terik matahari dan berleleran keringat, tetep aja lemak dalam tubuhku ga berkurang. Aku juga udah mencoba berbagai macam diet buat jadi lebih kurus. Salah satunya OCD yang sekarang lagi beken itu. Dengan iming-iming lebih cepet susut selama tiga bulan, aku ngejalanin dengan rajin dan tertib. Namun karena tidak beruntung aku malah berakhir dengan sakit perut dan pusing-pusing. Ibuku ngomel-ngomel dan aku dijejelin makanan - makanan dengan karbohidrat dan protein tinggi.



Aku pikir aku memang berlebihan. Jadi aku memutuskan untuk berhenti diet ketat dan cuma menjaga pola makan, nggak makan sembarangan, dan berhenti ngemil. Aku berusaha buat makan kalo cuman laper banget. Kaya kata Rasulullah. Tapi masalahnya aku selalu laper banget sepanjang hari. What a shame! Dan aku adalah gadis pengemil. Aku bisa mengemil sepanjang hari dan itu di luar nasi, yang juga selalu aku makan. Aku berusaha buat berhenti ngemil, baca-baca tips di internet dan majalah. Salah satunya adalah buat ngolesin tangan pake losion anti nyamuk, biar aku ga jadi ngemil karena tanganku pahit, dan beracun. Tapi cara itu juga gagal, karena aku tetep ngemil bahkan meskipun biskuitnya terasa pahit!

Jelas bukan berarti aku putus asa buat berusaha jadi langsing. Aku yakin suatu hari nanti aku bakal langsing. Zinger dan Hyosung aja bisa, Min dan Hyorin juga meski mereka curvy. Yaah... semangat.

Kalo kamu gimana? Suka ngemil juga ga? Pingin langsing juga ga?

Selasa, 22 Oktober 2013

Happy Eid Adha

Assalamualaikum...



Selamat idul Adha 1434 h semuaaa...
Maaf ya terlambat. Aku berani ngucapin this late karena aku tahu daging-daging merah di freezer kalian pasti belum habis. Yep, lots of meat everywhere in my refrigerator! Alhamdulillah kami dapat daging kambing dan daging sapi yang lumayan tahun ini. Segalanya benar-benar penuh rezeki dan penuh syukur.

Ketika daging-daging berdarah itu mulai mengotori teras rumahku, ibuku membaginya dalam plastik ukuran satu kiloan. Semua ditata rapi dalam freezer dan semua beres. Berikutnya kita tinggal mengambil tiap plastik tiap mau masak. Sangat mudah. Oyah... dagingnya belum dicuci ketika dimasukkan dalam plastik. Itu akan membuatnya tidak berbau.

Hari pertama Idul Adha ibuku membuat sup tolang super sedap yang pernah ada. Semua tulang-tulang raksasa itu dimasukkan dalam panci dan direbus, diberi bumbu dan voila! Sup tolang dengan kaldu sapi yang kental siap melumuri bibirku dengan minyak. Hari itu aku yakin lemak di tubuhku menumpuk dengan cepat.

Hari kedua ibuku memasak gulai yang juga kental dan super lezat, hari berikutnya semur daging dan sekarang tauto! Ini adalah masakan kuah daging dengan saus taucho yang super lezat. Masakan ini warisan turun temurun keluarga ibuku. Asalnya dari pekalongan Jawa Tengah, jadi tidak banyak yang tahu di Sidoarjo. Masakan itu baru jadi waktu aku menulis ini. Masih hangat dan asapnya mengepulkan aroma sedap dimana-mana.

Aku selalu penasaran apa yang dimasak ibu-ibu Indonesia di seantero nusantara ini dengan daging qurbannya. Aku akan senang sekali jika ada yang bercerita balik di kolom komentar tentang apa yang anda masak atau ibu kamu masak di rumah.


Kamis, 08 Agustus 2013

Eid Mubarak!

Assalamualaikum...
 
Eid mubaraakk everyone!!
Setelah 29 hari yang lalu berjuang menahan diri dari hawa nafsu. Menahan diri dari lapar dan dahaga, nafsu amarah, juga segala nafsu manusia lainnya. Akhirnya lebaran juga, Idul Fitri juga!

Buat semua muslimin dan muslimat sedunia, Taqabbalallahu minna wa minkum. Taqabbal yaa kariim. 
Semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan diterima oleh Allah, dan semoga dipertemukan kembali dengan ramadhan berikutnya. Aamiin...


Princess sekeluarga mengucapkan mohon maaf lahir dan batin.