Minggu, 22 Februari 2015

Kutu Alin








“Aaah… dapet satu… kena kau!” Dengan gemas Alin menekan ujung kuku jempolnya ke lantai, mengenai serangga kecil yang menggeliat tak berdaya.
“Iih… kecil banget, pantas saja gatalnya bukan main. “ Oceh Alin masih gemas. Dengan jengkel ia terus menyisir rambutnya dengan kencang hingga menimbulkan suara yang membuat Mama menoleh. Alin sedang duduk di lantai dengan tangan menggenggam sisir rapat dan rambut terjulur menutupi wajahnya. Di depannya ada kertas putih seukuran A4  yang dipenuhi titik-titik kecil berwarna hitam belepotan.
“Kamu itu nyisir rambut atau ngapain siih… kencang banget.”
“Iih… mama ga tau sih gimana gatalnya kepala Alin… NAAH… DAPAT SATU LAGI!” Teriaknya tiba-tiba.Ke sekian kalinya Alin menekan kuku jempolnya ke lantai.  Mama yang sedang sibuk memisahkan biji petai dari kulitnya hanya geleng-geleng kepala.
“Oiya… Lin, tadi dicariin Hima lho… “ Kata Mama.
“Males ah ma… males keluar.”
“Kamu udah seminggu ga keluar rumah, kamu mau semedi di rumah bersama hewan peliharaanmu itu?” Sergah Mama jengkel.
“Tau ah… Ma. Kutu sialan!” Umpat Alin sambil beranjak ke kamar.
***
Hari ini sudah sebulan Alin tidak mau keluar rumah selain ke sekolah dan hanya berkutat dengan rambutnya. Tiap hari ia mengeluh sambil menyisir rambut dan menindas kutu rambut di lantai. Sudah 5 botol peditox habis dipakai, tapi sepertinya kutu rambut Alin betah tinggal di rambut Alin yang panjang, dan lebat. Mama menyarankan banyak sampo dan obat-obatan alternatif  selain peditox. Namun kesabaran Alin sudah diambang putus asa. Ia memepertimbangkan untuk mencukur habis rambutnya agar bisa terbebas selamanya dari monster rambut ini.
Tiba-tiba Alin keluar dari kamarnya dan mengagetkan orangtuanya di ruang keluarga.
“Ya Allah… anak mama. Makin kaya di filem hantu aja sih.” Pekik mama melihat tampilan Alin yang misterius dengan wajah tertutup rambut panjangnya.
“Sisiran dong nak… masa gitu.” Papa meraih tangan Alin dan mengajaknya duduk di sampingnya. Pria paruh baya itu menyibak rambut Alin sambil berdecak, seolah-olah melihat banyak kutu.
“Iih papaaaaa…” Buru-buru Alin menyingkirkan tangan papanya merapikan rambutnya yang berantakan.
Dengan rambut tersibak dan ekspresi yang dilebihkan, Alin menatap papa dan mamanya bergantian, “Alin mau ke salon.”
“Iih… malu lah Lin, kutuan begitu. Udah dibersihin dulu kutunya baru ke salon…”
“Alin mau cukur plontos ma.”
“Apa?” Sentak Mama dan Papa bersamaan.
“Aneh-aneh aja, gausah.” Mama buru-buru melarang.
“Biar ilang semua kutunya, dan ga balik lagi.”
“Masa perempuan plontos sih… ga bagus ah dilihatnya.” Sahut Papa.
“Alin udah capek kutuan maa..” Sentak Alin.
“Tapi tetep aja bukan plontos caranya nak…!” Mama menghela napas kesal.
Namun Alin sudah ngeloyor pergi, tidak membiarkan siapapun menggoyahkan keputusannya.
***
Alin menunduk menatap gumpalan hitam yang berserakan di lantai keramik di bawah kakinya. Mati-matian ia menahan air mata yang mulai memanasi matanya. Ia tidak boleh menangis, ini adalah keputusannya sendiri.  Pelan-pelan ia mengangkat kepalanya dan menatap cermin. Ia mengamati penampilan barunya yang berbeda, dan aneh.  Wajahnya jadi terlihat lebih bundar dengan kepala plontos. Pipinya terlihat lebih chubby dan dahinya terlihat lebih lebar. Alin baru menyadari, ternyata peran rambut sangat penting bagi wanita.  Ia lambang keagungan seorang wanita. Ia melambangkan kekuatan karakter skaligus kelembutan fisik seorang wanita. Sekarang wajahnya kehilangan semua itu. Semuanya tampak kosong, mahkotanya seperti terenggut. Penyesalan yang sempat pergi itu kembali merasuki dadanya, dengan menatap rambutnya yang berserakan di bawah kakinya, ia membiarkan air matanya jatuh. Ia tidak peduli pada mbak – mbak kapster yang menatapnya heran, juga pengunjung salon yang duduk di sebelahnya. Ia menaruh kepalanya di atas siku dan  mengizinkan dirinya menangis sesenggukan setelah memangkas habis rambut panjangnya. Meskipun ini pilihannya sendiri.
***
Setelah pulang dari salon, Alin semakin jarang keluar kamar. Meskipun kini masalah kutunya sudah selesai, ternyata tidak punya rambut adalah masalah baru.  Alin jadi tidak percaya diri keluar kamar, meski di depan keluarganya sendiri. Ia terus duduk di depan meja rias sambil mengelus kepala plontosnya. Sesekali ia masih merasa menyesal dan sakit hati, tapi setiap detik ia mengingatkan diri sendiri bahwa plontos lebih baik daripada punya rambut berkutu. Ia memperhatikan pantulan wajahnya di cermin dengan seksama. Besok hari senin, bagaimana caranya ia pergi ke sekolah dengan kepala plontos seperti ini?
“Cklek…” Tiba-tiba Mama masuk ke kamarnya.
“Sudah jangan ngaca terus, nggak usah disesali. Mama bilang juga apa, cewek ga baik plontos.”
Alin memandang mamanya dari cermin dengan cemberut. Sudah tahu ia menyesal masih saja Mama mengomel.
“Sini mama punya sesuatu buat kamu.” Lambai Mamanya dan menyuruhnya duduk di kasur.
Alin mendekat, ia bisa melihat bungkusan plastic di pangkuan mamanya.
“Ini…, pake ini besok ketika berangkat ke sekolah.” Mama menyerahkan lipatan kain berwarna putih pada Alin.
“Ini apa Ma?”
“Itu kerudung nak.”
Alin tercekat memandang Mamanya.

***
Alin akhirnya memakai kerudung ke sekolah, setelah harus diyakinkan papa dan mama berkali-kali. Ia berjalan menuju kelas dengan tidak percaya diri. Begitu sampai di kelas, seperti yang sudah diprediksi, semua temannya heboh melihat penampilannya.
“Ya ampun Aliiiin… lu tobat?” Teriak Hima sahabatnya pertama kali.
“Aliin lu kenapa, lu botak ye?”
“Gapapa Lin, makin cantik.”
“Ya Allah bu hajiii…!”
Bermacam komentar bersahutan memenuhi kelas, ada beberapa yang tersenyum dan memeluknya. Menyelamatinya dan mendoakan agar istiqomah dengan tulus. Alin jadi malu pada mereka yang tulus menyelamatinya. Tujuannya memakai kerudung sama sekali tidak layak untuk diselamati. Namun diam-diam ia berterimakasih dan mengamini dalam hati.
***
Semenjak memakai kerudung perilaku Alin berubah. Ntah kenapa Alin juga tidak mengerti. Ia merasa harus menyesuaikan perilakunya dengan penampilannya yang baru. Meskipun hanya sampai rambutnya kembali tumbuh dan panjang. Sampai sekarang ia belum member tahu teman-temannya alasannya berkerudung. Biarlah mereka kira ini hidayah, ia juga berharap ini hidayahsesungguhnya.
Alin bukannya tidak tahu bahwa kerudung adalah pakaian wajib seorang wanita muslimah ketika telah baligh. Hanya saja ia masih ogah-ogahan memakainya. Terkadang ia memakai kerudung saat ada pesantren Ramadhan di sekolahnya, atau saat mendatangi pengajian minggu pagi di masjid lingkungan rumahnya. Ia merasa ia belum pantas memakai kerudung dan harus berperilaku alim seperti teman-temannya yang remaja masjid. Sekarang setelah tidak sengaja berkerudung, ia harus menyesuaikan perilakunya yang dirasanya kurang sesuai.
Alin jadi mengurangi tertawa keras-keras dan duduk di atas meja. Ia juga menahan diri untuk tidak berlarian di koridor sekolah sambil menjahili teman-temannya. Jika biasanya ia mudah sekali mengumpat saat kesal, kini Alin berusaha ingat untuk istighfar. 
Alin juga jadi sering nongkrong di masjid. Biasanya ia malas ke masjid sekolah kecuali untuk sholat dzuhur. Kini iseng-iseng Alin duduk-duduk di masjid, penasaran dengan apa yang dilakukan teman-temannya yang anak masjid. Tiba-tiba saja matahari bersinar sangat terik, Alin masuk ke dalam dan mencari tempat duduk di bawah kipas angin. Ia bertemu Hana, teman sekelasnya. Ia sedang duduk di bawah kipas angin membaca Qur’an.
“Hei… Hana, kamu lagi… baca Qur’an?” Alin membungkuk untuk melihat buku yang dibaca Hana.
“Iya, eh Alin ngapain? Habis sholat?” Hana menutup Qur’annya dan menaruhnya di tas kecil di sampingnya. Mata Alin mengikutinya.
“Kamu bawa Qur’an ke sekolah?” Alin tidak menjawab, malah balik bertanya sambil duduk bersila di depan Hana.
“Iya.” Jawab Hana sambil tersenyum manis. “Oiya, pekan depan ada kajian ahad pagi di masjid ini, kamu datang ya.” Pinta Hana sambil menggenggam lengan Alin. Alin memandang tangan Hana yang menggenggamnya. Ntah mengapa ada perasaan hangat yang menyeruak di dada Alin, yang membuat Alin ingin dating ke pengajian.
“Iya, insyAllah.” Jawab Alin sambil balas tersenyum. Setelah itu Alin hanya duduk di samping Hana, mengobrol.  Alin bertanya banyak hal pada Hana. Teman sekelasnya yang jarang ia ajak ngobrol sebelumnya. Alin bertanya mengenai kerudung, rohis dan mengapa Hana membawa Qur’an kemana-mana.
“Kamu nggak gerah?” Tanya Alin setelah mendengar cerita Hana yang berkerudung sejak kecil, dan dari ceritanya, kerudung Hana menjadi semakin lebar seiring pengetahuan agamanya bertambah. Kini kerudung Hana menutupi bahu dan menjulur ke dada.
“Kamu?” Hana balas bertanya.
“Gerah bangeeeet!” Alin langsung mengibaskan kerudungnya dengan dramatis.
“Hahaha… aku juga laah.” Hana menepuk bahu Alin otomatis. “Mmm… gini, kamu suka olah raga?” Tanya Hana.
Alin menggeleng kencang. Hana tertawa melihatnya.
“Nah … gimana rasanya kalo kamu disuruh skotjam 10 kali?” Mata Alin langsung melotot.
“Pasti bakal sakit semua tuh, ga bakal bisa jongkok sebulan.”
“Nah sama seperti itu, segala hal yang baru yang belum pernah kita lakukan akan sangat berta saat pertama kali dilakukan. Begitu juga dengan kerudung, kalo pertama kali pake, pasti terasa gerah sekali.”
"Tapi aku belum alim..." Gumam Alin ragu.
"Di dunia ini siapa yang terlahir alim Alin..., kita semua terlahir tidak mengerti apa-apa. Makanya kita terus belajar sambil mempraktekannya. Emang aku sudah alim." Terang Hana diikuti tawa renyah.
Mendengar  penjelasan sederhana yang diutarakan Hana, Alin jadi mengangguk mengerti.  Memakai kerudung dalam kehidupan sehari-hari adalah hal baru baginya, maka sudah wajar kalau ia terus merasa gerah sepanjang hari di sekolah. Namun setelah ia terbiasa, ia tidak akan merasa terlalu gerah lagi, sama seperti Hana. Dan bersamaan dengan itu ia harus terus belajar. Semua manusia pasti begitu. Tapi benarkah ia akan terus memakai kerudung? Alin menunduk menatap ujung kerudungnya, ia masih belum tahu jawabannya.
***
Seminggu berlalu sejak obrolan Alin dengan Hana. Hari ini hari Ahad, Alin bangun pagi-pagi sekali menyiapkan kerudung yang akan dipakainya untuk datang ke pengajian di masjid sekolah. Ia duduk di depan meja rias dan sedang berusaha menata kerudung di atas kepalanya. Tiba-tiba Alin berubah pikiran, ia ingin mencoba pakai kerudung seperti Hana. Kerudung panjang yang menutupi bahu dan menjulur ke dada. Ia mencari tutorialnya di google dan dengan bantuan Mama, Alin berhasil memakainya.
Alin terus mematut dirinya di depan cermin dengan kerudung model barunya. Sekarang kegiatan ini mulai menjadi kebiasaannya setiap pagi, sejak kepalanya plontos dan pakai kerudung. Alin jadi tersenyum sendiri mengingatnya. Kalau saja rambutnya tidak kutuan dan ia memutuskan untuk cukur plontos, tentu saja ia tidak akan pernah berpakaian seperti ini. Baju muslimah dan kerudung panjang.
Anggun. Bisik hati Alin terharu sendiri. 
“Kamu pantas banget pake kerudung nak.” Sahut Papa tiba-tiba seraya menepuk bahunya.
Alin tersenyum melalui cermin. “Makasih Pa.”  Lalu kembali menatap pantulan wajahnya sendiri.
Apakah aku akan terus pake kerudung?
Alin mengangguk menjawab pertanyaan dalam batinnya. Saat rambutnya berceceran di lantai sebulan yang lalu, ia sedih sekali karena merasa identitas kewanitaannya telah hilang. Sekarang rambutnya mulai tumbuh perlahan, namun ia memilih melindunginya dengan kerudung.  Ia merasa pantas dan percaya diri memakainya.  Ia ingin mencoba berpakaian seperti Hana. Ia ingin mencoba menangkap hidayah yang teman-teman pikir Alin dapat sebulan yang lalu dan yang pasti, rambutnya juga tidak akan mudah tertular kutu. Dalam hati ia merapal basmalah, lalu melangkah menyalami Mama dan Papanya di ruang tamu.
“Hati-hati ya nak… “
“Iya ma… Assalamualaikum.” Seru Alin sambil bergegas keluar rumah.
Mama dan Papa hanya berpandangan penuh arti melihat kepergian Alin. Hari ini pasti spesial, karena seumur hidupnya Alin jarang sekali mengucap salam.

                                                                                                      

Kamis, 11 Desember 2014

Tuhan Maha Romantis


Assalamualaikum...
Apa kabar... 

Datang yuk ke acara Talkshow dan Bedah Buku "Tuhan Maha Romantis" bersama Azhar Nurun Ala
di Masjid Al Ikhlas Jatipadang - Pasar Minggu
Ahad 21 Desember 2014
 Pukul 07:00 - 12:00

Akan ada: Doorprize meriah, Nasyid, Stand buku Tuhan Maha Romantis,
Snack, Seminar KIT dan masih banyak lagi.

HTM : 10000 ONLY!!

AYO TUNGGU APA LAGI SEGERA DAFTAR KE;

Format: TMR_Nama_Instansi kirim ke 087702679080 (whattsapp)


Jumat, 07 November 2014

Talking to You






 Assalamualaikum... Apa kabar?
Anyway... comeback kali ini sekalian mau curhat hu...hu...hu...

One day... which is really fine day, aku ngobrol sama cowok. Biasalaah... sejak awal aku selalu terbuka dalam hal hubungan lawan jenis. Aku percaya cowok dan cewek seharusnya bisa berteman, tanpa harus jatuh cinta. Kalaupun saling jatuh cinta, yaa rezeki itu mah. Tapi tetap harus syar'i. Berteman baik dengan cowok bukan berarti trus bisa jalan berdua dan berdekat-dekatan. Itu tetep ngga boleh lah... kan ada aturannya dalam Islam.Berteman berteman aja, ga usah modus mblo!

Kembali ke acara obrolanku tadi... Jadi ceritanya kita ngobrol lewat wasap. Udah cair banget laah kaya udah kenal ribuan tahun terus dipertemukan kembali oleh R*TI. Kita ngobrol ngalor ngidul, ini itu dibahas semua. Padahal belum pernah ketemu!! Canggih kan! But somehow... cowok itu, anggap saja namanya Akar, punya persepsi berbeda menanggapi keakraban kita. Dia mulai sering ngomong hal yang cheesy gitu deh. Aku sih mesem ajalah. Ga menanggapi lebih lanjut. Tapi kayanya Akar seneng banget ngegodain aku. Aku ga yakin juga dia sungguh-sungguh ama omongannya itu, aku juga ga GR gitu aja. Secara aku kenal lah tabiat cowok. *smirk Tapi aku tetep aja lanjutin obrolan kita, dengan niat pertemanan yang tulus. Serius... pingin punya teman cowok yang awet ampe tua, trus dikenalin ama cucu-cucuku hehehe.Tapi karena Akar udah mulai ngasih sinyal ga sehat, hatiku udah mulai ragu, dilanjutin ganih? Setelah menimbang-nimbang antara maslahat dan mudhorot... yang menang adalah kebandelanku. Kita tetep lanjut wasapan... makin asik...makin renyah...udah kaya pilus garuda aja. Namun suatu ketika ditengah-tengah obrolan aku gasadar lemparin kalimat-kalimat rancu semacam...

"Pingin main ke rumahmu dong..." Doeng!!

Iya iya... aku tahu. Kalian kira aku modus kan, kode-kode buat pingin dilanjutin... Kode-kode kalo aku ada rasa? Jawabnya Bukan! Nggak ada modusisasi dalam kamusku. kalo suka bilang, kalo ga, ya gausah bilang kaleus... ntar berantem *lemparsendal 

Sometimes... aku lupa kalo aku ini cewek. Dan para cowok pasti ngeliat aku sebagai cewek. Kelakuan, omongan bahkan emoticon chatting semua kecewekan. Coba kalo kamu denger kalimat di atas dari cowok? Everithing's gonna be ok kan? Tapi aku lupa, aku cewek! Jelas aja kalimat kaya gitu terdengan modus... gembel! Padahal aku serius mau main ke rumahnya, kenalan sama Umminya, sodaranya, main, numpang makan, dibagi sangu *plak hehe... semuanya sebagai temen. Iyaaa.. TEMEN. Jadi ga ada niatan buat menyuruhmu meminang aku kang mas... ga ada. *lapingus

Terus... sometimes aku juga suka keasikan melebarkan perkenalan. Sambil sok iye... aku sebutin semua temennya yang aku kenal juga. Aku sebutin beberapa temen sekelasnya, kan bangga nih kita punya beberapa teman yang sama, kaya di facebook tuh. Aku tanyain kenal Daun ga? Kenal Ranting ga? Karena dia sekolah di sekolah khusus cowok dan aku di sekolah khusus cewek, otomatis yang aku tanyain cowok semua dong. Tapi aku lupa! Kalo cowok itu punya semacam pride and jealousy, mereka gasuka kalo cewek ngobrolin cowok lain depan mereka. Tapi sekali lagi aku lupa, aku memposisikan diriku sebagai teman manusia, bukan teman cewek yang lagi PDKT! Jadi aku gasadar kalo aku udah mengganggu perasaannya. Apalagi salah satu temen yang aku tanyain sahabat dia, dia otomatis ngebayangin adegan ftv gitu kan... semacam...

Akar : Apa jadi lu mainin gue? Ngapain lu screwing hubungan gue ama sahabat gue hah? Lu berusaha ngadu domba kita? bla... bla...bla...

Waah... gaenak banget kan... kayanya aku bukan cewek baik-baik, yang tiap hari mandi pake sabun dan rajin ke sekolah. Disangkain kaya gitu tuh sakitnya di sini lho! Padahal demi Allah aku cewek baik. Tanyain deh ama teman sekosku, murabbiku juga boleh *inibarumodus *plak 

Tapi yaa... gitu deh kalo nekat bergaul akrab sama cowok yang bukan mahram, pasti ada fitnah. Fitnahnya macem-macem... bisa muncul rasa cinta, padahal belum siap nikah. Bisa muncul dzon dzon yang gaenak, dan bisa muncul stereotip jelek masyarakat sama perempuan. Makanya... fa 'alaina an nuhafidzo nafsana min hadzal 'amal. Stop... kalo kamu ga sekuat itu, jangan deeh main-main sama perasaan. 

 Dan buat kamu, iyaaa kamu. Eciyee... aku kamuan niih... *plak *lemparinbata buat ente deh. Maaf ya... ane minta maaf banget, mungkin tanpa sengaja udah menyinggung perasaan ente, udah mengganggu hari-hari ente. Mungkin semua tulisan cuma keliatan kaya alasan aja. Tapi ane tulus mau jadi temen tanpa harus dibikinin seribu candi. Ane harap kita ga awkward stelah ini, andaikan, biidznillah kita ketemu lagi, semuanya wajar. Ane tetep nunggu undangan ke rumahnya lho... Dan traktirannya jangan lupa!! Awas ntar ane tagih sampe pelaminan.!!


Sincerely yours,
Princess




Selasa, 21 Januari 2014

Langsing???



Semua orang terlahir dengan obsesi dan cita-cita masing-masing. Ada cita-cita yang berubah seiring bertambah usia, ada juga cita-cita paling orisinil sejak lahir. Cita-citaku dari dulu pingin banget bisa jalan-jalan ke luar negeri dan menguasai macam-macam bahasa asing. Rasanya asik aja kalo kita bisa ngomong bahasa orang lain, apalagi yang ga umum diajarin di sekolah. Kaya Rusia, Ibrani, Italy, Korea, banyak deh... apalagi yang kuno-kuno gitu.

Nah aku juga punya cita-cita orisinil sejak lahir, atau lebih tepat obsesi sih. Yaitu pingin langsing. Kenapa... ga terlalu orisinil yah? 

Aku udah terlahir dengan pipi chubby dan postur yang ga langsing. Meskipun aku udah lari-lari di bawah terik matahari dan berleleran keringat, tetep aja lemak dalam tubuhku ga berkurang. Aku juga udah mencoba berbagai macam diet buat jadi lebih kurus. Salah satunya OCD yang sekarang lagi beken itu. Dengan iming-iming lebih cepet susut selama tiga bulan, aku ngejalanin dengan rajin dan tertib. Namun karena tidak beruntung aku malah berakhir dengan sakit perut dan pusing-pusing. Ibuku ngomel-ngomel dan aku dijejelin makanan - makanan dengan karbohidrat dan protein tinggi.



Aku pikir aku memang berlebihan. Jadi aku memutuskan untuk berhenti diet ketat dan cuma menjaga pola makan, nggak makan sembarangan, dan berhenti ngemil. Aku berusaha buat makan kalo cuman laper banget. Kaya kata Rasulullah. Tapi masalahnya aku selalu laper banget sepanjang hari. What a shame! Dan aku adalah gadis pengemil. Aku bisa mengemil sepanjang hari dan itu di luar nasi, yang juga selalu aku makan. Aku berusaha buat berhenti ngemil, baca-baca tips di internet dan majalah. Salah satunya adalah buat ngolesin tangan pake losion anti nyamuk, biar aku ga jadi ngemil karena tanganku pahit, dan beracun. Tapi cara itu juga gagal, karena aku tetep ngemil bahkan meskipun biskuitnya terasa pahit!

Jelas bukan berarti aku putus asa buat berusaha jadi langsing. Aku yakin suatu hari nanti aku bakal langsing. Zinger dan Hyosung aja bisa, Min dan Hyorin juga meski mereka curvy. Yaah... semangat.

Kalo kamu gimana? Suka ngemil juga ga? Pingin langsing juga ga?

Selasa, 22 Oktober 2013

Happy Eid Adha

Assalamualaikum...



Selamat idul Adha 1434 h semuaaa...
Maaf ya terlambat. Aku berani ngucapin this late karena aku tahu daging-daging merah di freezer kalian pasti belum habis. Yep, lots of meat everywhere in my refrigerator! Alhamdulillah kami dapat daging kambing dan daging sapi yang lumayan tahun ini. Segalanya benar-benar penuh rezeki dan penuh syukur.

Ketika daging-daging berdarah itu mulai mengotori teras rumahku, ibuku membaginya dalam plastik ukuran satu kiloan. Semua ditata rapi dalam freezer dan semua beres. Berikutnya kita tinggal mengambil tiap plastik tiap mau masak. Sangat mudah. Oyah... dagingnya belum dicuci ketika dimasukkan dalam plastik. Itu akan membuatnya tidak berbau.

Hari pertama Idul Adha ibuku membuat sup tolang super sedap yang pernah ada. Semua tulang-tulang raksasa itu dimasukkan dalam panci dan direbus, diberi bumbu dan voila! Sup tolang dengan kaldu sapi yang kental siap melumuri bibirku dengan minyak. Hari itu aku yakin lemak di tubuhku menumpuk dengan cepat.

Hari kedua ibuku memasak gulai yang juga kental dan super lezat, hari berikutnya semur daging dan sekarang tauto! Ini adalah masakan kuah daging dengan saus taucho yang super lezat. Masakan ini warisan turun temurun keluarga ibuku. Asalnya dari pekalongan Jawa Tengah, jadi tidak banyak yang tahu di Sidoarjo. Masakan itu baru jadi waktu aku menulis ini. Masih hangat dan asapnya mengepulkan aroma sedap dimana-mana.

Aku selalu penasaran apa yang dimasak ibu-ibu Indonesia di seantero nusantara ini dengan daging qurbannya. Aku akan senang sekali jika ada yang bercerita balik di kolom komentar tentang apa yang anda masak atau ibu kamu masak di rumah.


Kamis, 08 Agustus 2013

Eid Mubarak!

Assalamualaikum...
 
Eid mubaraakk everyone!!
Setelah 29 hari yang lalu berjuang menahan diri dari hawa nafsu. Menahan diri dari lapar dan dahaga, nafsu amarah, juga segala nafsu manusia lainnya. Akhirnya lebaran juga, Idul Fitri juga!

Buat semua muslimin dan muslimat sedunia, Taqabbalallahu minna wa minkum. Taqabbal yaa kariim. 
Semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan diterima oleh Allah, dan semoga dipertemukan kembali dengan ramadhan berikutnya. Aamiin...


Princess sekeluarga mengucapkan mohon maaf lahir dan batin.


Jumat, 12 Juli 2013

Tarhib Ramadhan

Assalamualaikum...
Hey... Ramadhan udah hari ke empat aja nih. Cepet banget ya berlalu. Semoga aja selama tiga hari yang lewat ini semuanya dipenuhi dengan keberkahan dan ga ada penyesalan. 
Aku sendiri berharap Ramadhan kali ini semua resolusi dan targetku terpenuhi. Pingin khatam Qur'an, pingin nambah hapalan, pingin jadi muslimah yang sungguhan. Semoga semua bisa terpenuhi Ramadhan ini.

Ramadhan selalu ada tarhib Ramadhan. Tarhib Ramadhan tahun ini di rumahku masih monoton. Membuat ucapan selamat di atas kertas karton dengan huruf warna-warni yang ditempel. Aku pinginnya bisa dikasih lampu warna-warni, trus huruf bercahaya, yang meriah gitu lah. Biar semua orang ikut; merasakan betapa meriah dan berharganya Ramadhan ini. Tapi gapapalah budget kan berperan penting juga.
Yang keren tuh Tarhib Ramadhannya DPD PKS Surabaya. Mereka bikin freeze mob sambil pawai di sepanjang jalan sambil bawa poster berisi tentang keceriaan Ramadhan. Keren tuh!

Udah dulu ya, ini laptop minjem hehehe.