Minggu, 18 September 2011

Bisnis Properti!!!

PENAWARAN EKSKLUSIVE FIRDAUS REGENCY


HUNIAN NYAMAN TIADA BANDING!


TYPE:


-JANNATUN NA'IM

-JANNATUL MA'WA

(ready stock/siap huni)


Fasilitas:

-View luas tak terbatas

-Akses masuk tujuh pintu

-Kolam madu azwa

-Kolam arak

-Taman seluas triliunan hektar dengan buah-buahan siap santap


Tersedia Kavling Khusus Mujahid Dakwah!!


Syarat Pemesanan:

1. Bertaubat

2. Kembali ke Jalan Allah

3. Memegang teguh agama Allah

4. Melaksanakan seluruh syariatNya dan memperjuangkannya

5. Menjadi muslim yang sholeh dan mukhlis


Anda berminat?? Segera hubungi kantor pemasaran:


Jln. Fisabilillah Rukun 6/5 no1 Bumi Allah.


Sabtu, 10 September 2011

Catatan Galau Ababil!!

Assalamualaikum.... hi ikhwan...akhwat rahimakumullah!! Ntah kenapa hari ini malem jum'at (ntah kliwon ato apa) saya mencurahkan seluruh inspirasi untuk menulis catatan ini. Beberapa kalian mungkin bertanya-tanya, kenapa juga saya bagi ini, ini kan ga penting. Tapi ini memang bukan karena penting ato ga, ini lebih karena saya ingin merayakannya dengan antum semua. Yeaayyy...lets move on!!



Tiba-tiba beberapa jam kepungkur, saya mendapatkan sebuah pencerahan. Wow apa ini ada hubungannya dengan illuminati? I don't think so, yang jelas saya bukan anggota freemason! Ga nyambung oke. Beberapa tahun terakhir saya mulai mengalami kegalauan parah. Rasanya seperti ada yang berdebum-debum di dada saya, tapi saya juga kurang tahu itu apa. Setelah masa pendewasaan saya yang kebrangas soal hubungan lawan jenis, saya menjadi sombong. Saya pikir saya akan dengan mudah menghandle perasaan aneh di masa remaja saya yang notabene 'labil' , karena saya sudah menelisik jauh-jauh hari sejak SD!! Tapi ketika masa-masa itu datang. Ketika hati saya kemeresek tidak karuan, gelisah, merasa merindukan sesuatu yang tidak jelas, dan perasaan itu yang kata anak gahol 'galau' itu tidak terkatakan sama sekali. Saya benar-benar tidak mengerti!!



BTW saya selalu sekolah di tempat dimana pria dan wanita terpisah. Jadi ketika saya mulai berusia 'flamable' saya tidak merasakan ketertarikan lawan jenis seperti yang teman-teman saya rasakan. Saya pikir, saya tidak akan sebegitu gelisahnya menjadi jomblo. Saya pikir hidup bersama para wanita itu sudah cukup, mereka ramah, baik hati, asik, dan saya nyaman di dekat mereka. Dan saya eksis!! So...i dont need a boy!! Saya bahkan pernah berpikir untuk jomblo seumur hidup seperti Rabi'ah, ato minimal baru menikah ketika berusia 30 tahun!! Ngeri booo...



Saya mungkin sering koar-koar saya mendambakan pernikahan dini, dengan seorang lelaki berusia dini yang sama-sama freaknya kaya saya, sejak SD. Itu betul seratus ribu persen!! Karena saya memang sudah merintis kegalauan sejak usia ingusan. (nohope) Dan...saya tidak menyesali ini :D Namun ketika saya mulai menyadari seperti apa lelaki itu sebenarnya. (well mereka itu lumayan resek, oportunis, nyebelin dan sok keren. IMHO) Harapan saya soal menikah dini itu pupus perlahan. Seperti salju di musim panas. Tiba-tiba semuanya banjir begitu saja, dan mengalir menjauh. Tapi kenaifan saya itu sticky di hati saya!! Diam-diam...saya masih mendambakan lelaki muda yang freak tapi sholeh itu...



Sampai beberapa jam kepungkur saya masih tidak mengerti apa esensi kegalauan itu sendiri (wuiihh bahasanya). Tapi suer...saya sebelumnya bingung. Rasa apa ini bingung, mau cerita juga bingung, makanya itu dinamakan GALAU!!



Suatu hari saya berdiskusi dengan ibu saya soal ini. Beliau bilang pria dan wanita itu memang begitu, seperti magnet. Klise banget ya kan? Tapi itu benar-benar tidak saya mengerti hingga beberapa jam kepungkur!! Setelah keluar dari pondok dan sekolah di sekolah Paket yang disana ditongkrongin cowok dan cewek segala rupa. Satupun ga ada yang berkesan di hati saya. Mereka...nggak banget deh pokonya. Jangan paksa saya cerita!! Hingga saya masuk sekolah resmi, disana cowok-ceweknya relatif aman terkendali, tapi tetep aja. Ga pernah sekalipun saya memandang teman-teman cowok saya tanpa membayangkan bagaimana mereka ketika sudah jadi lelaki? Dengan segala ketengikan, keresekan, kejijayan mereka ini! Mereka bakal jadi qowwam, kaya gini??? Oh no! Jadi sejak saya menemukan kegalauan saya, saya belum pernah jatuh cinta!!



Ngomong-ngomong soal magnet...artinya lebih dalem lho daripada yang kalian bayangkan. Inget ga, sapa diantara kalian yang ga pernah saya ajak ngobrol ketika di pondok? Yang interaksinya cuma sebatas saling memandang lalu diinterpretasikan sendiri-sendiri?? Yep kita dulu kaga kenal, tapi waktu kita ketemu di FB BLEMM... Kita ngobrol...akrab...ceria...lancar, seolah dulunya akrab sekali!! Juga yang anti rasain pas dapet sms dari huwa yang kata anti nyebelin. Anti bilang dia nyebelin tapi anti terus bales sms yang huwa kirim. Juga yang anti bilang anti ga ada hubungan apa apa, tapi anti selalu jalan bareng huwa, bahkan berfoto akrab??

ITU KARENA KITA BERBEDA KUTUB. KITA SALING TERTARIK UNTUK MENGOBROL DAN MERASA DEKAT SATU SAMA LAIN!! WOW...sesuatu banget yah lawan jenis itu!!



Saya juga tiba-tiba ingat..tentang ayat yang menyegerakan menikah ketika berpuasa sudah tidak nangani. Afwan saya lupa ayatnya, tapi InsyaAllah para khufadz di bawah tahu ayatnya!! Saya juga jadi mengerti kenapa seorang ikhwan yang saya kenal ngebet pingin menikah muda, dia mungkin beralasan ini lebih pada dakwah...visi...misi dan tetek bengek. Tapi beyond everything! Saya tahu ini lah yang dinamakan kegalauan itu! Selama ini orang tua saya suka bilang "Kamu pingin dinikahin ya?" saat saya mulai berperilaku aneh. Saya cuma mesam mesem sambil mikir 'apa hubungannya?' (padahal mah emang iya:P )



Jadi ketika saya mulai menyadari sesuatu yang meluap-luap di hati saya. Ya Allah ini toh galau! Ternyata saya juga (bisa) sama gelisahnya dengan kebanyakan remaja, karena saya jomblo! Saya juga merasa ada yang aneh, ada yang kurang, ada yang seharusnya memenuhi hati saya tapi ga ada. Ada rongga kecil di hati saya yang butuh diisi. Itulah galau...Kenapa juga menikah itu menggenapkan separuh din. Bukan cuma filosofi tentang kehidupan rumah tangga, tapi saat ada seseorang yang memenuhi kegalauan kita saat itu lah semuanya sempurna. Karena itu lah kehidupan yang sebenarnya mencjalani hidup dengan seseorang disamping kita, for seeking his pleasure!! -Maher Zain- Rasanya seperti klik, memutar kunci dan terbuka! Saya pikir...Ya Allah ternyata saya sudah besar!! Juga ketika seorang ikhwan yang datang dengan materi nikah dininya yang menggugah. Wow...itu membangunkan sisi kenaifan saya yang terpendam. Saya sampai...wow...it's amazing, exciting, freaking, confusing n wondering in the same time!! I love this passion!!



Galau itu...it's kinda complicated. SAYA PIKIR GALAU ITU CANGGIH SEKALI!!

Kenapa saya tag anda semua disini? Karena sekali lagi, saya ingin merayakannya dengan anda, atas kegalauan saya yang sangat menginspirasi!! thanks for reading :)



Thanks to:



*Allah SWT yang udah kasih saya 'kegalauan' yang menggelitik

*Syahrini dengan kaftan dan aksesorinya yang gemerlapan. Alhamdulillah yah...ini pasti sesuatu banget.

*Akhi someone yang sudah mengembalikan sisi kenaifan dan kegilaan saya yang sebenarnya.

*Teman-teman Badrussalam yang sudah mengembalikan keceriann saya yang spontan dan penuh gairah.

*Ibuku yang sudah memahami kegalauan saya SEJAK SD!!

*Amah...ga tau kenapa??



NO OFFENSE...KALO ADA YANG NGERASA...SAYA GA TANGGUNG JAWAB BLAS!!

Selasa, 06 September 2011

Let's Talk About Marriage (again)



Assalamualaikum....
Pengumuman saya sedang galau. Ini hanya galau ringan, tapi disarankan untuk membaca curhatan saya dengan penuh perhatian. Karena keinginan orang galau hanya ingin diperhatikan. *ohjujurnya BTW saya udah pernah cerita soal marriage kan sebelumnya. Tapi saya belum ceritakan mengapa saya begitu terobsesi dengan pernikahan .........dini.



Awalnya, ketika saya kelas 6 SD (parah) saya membaca buku karya Izzatul Janna ft Rabi'ah Aladawiyah, bertajuk Diary Pengantin. Buku itu menceritakan awal-awal Izzatul Jannah membangun rumah tangga bersama suaminya dan awal mereka ta'aruf. Tapi yang membuat saya terobsesi adalah cerita Robi'ah Al-adawiyah yang mengutarakan ia siap menikah pada bapaknya. Usianya relatif muda 23 tahun. Dan quote favorit saya adalah ketika Robi'ah membaca visi misi yang tertera di proposal calon suaminya saat ta'aruf, yaitu

"Menikahlah, karena menikah adalah sunnah yang bersejarah"

Sejak saat itu saya bermimpi untuk menikah sejak usia muda, dengan suami yang juga berusia muda tentunya!! Apa lagi saat itu juga sedang booming buku karya Haikal Siregar putra Pipiet Senja yang menikah di usia 19 tahun dengan pasangannya yang sebaya. Kalo ga salah judul bukunya 'Nikah Dini Kereeen'.



So i'm getting mad with young marriage!!

Akhir SD sampai awal SMP saya terus memikirkannya. Tentang seperti apa pernikahan itu, hingga pria idaman saya yang akan jadi suami saya nantinya. Dalam bayangan saya, suami saya adalah pria muda sebaya saya. Dia haruslah sholeh, aktivis dakwah dan tampan. Dia juga harus baik dan ramah pada saya. Jadi kita akan bekerja sama sebagai sahabat seumur hidup, bukan hanya atasan dan bawahan.



Mimpi-mimpi tentang pernikahan dini itu terus memenuhi angan-angan saya hingga akhir SMP. Jadi seolah-olah saya telah memikirkan dengan matang seperti apa gambaran pernikahan saya nanti, juga kehidupan rumah tangga saya.
Kami akan menjlankan konsep rumah tangga islami bersama-sama. Kami kan bergandengan tangan saling membantu. Saya adalah tipe gadis yang slengekan dan sangat spontan. Jadi saya selalu membayangkan suami saya nantinya adalah teman saya, yang saya akan ngobrol dengannya ketika hati saya gundah. Tidak ada rasa sungkan ataupun hormat yang berlebihan.
Saya juga sangat fleksibel. Jadi tidak masalah apapun pekerjaan suami saya nantinya, ataukah kami harus tinggal berjauhan. Karena kita menikah dan akan saling mencintai karena Allah, bukan sekedar a temporary passion. Jadi saya terus membayangkan diri saya sebagai seorang wanita dan seorang lelaki shaleh di samping saya hingga masa-masa transisi saya datang dan menggoyahkan angan-angan saya.
Kenaikan kelas menuju SMA saya tinggal di rumah bersama keluarga saya. Ibu saya adalah orang yang sangat terbuka. Beliau terbiasa untuk mendiskusikan segala sesuatu bersama saya, termasuk soal rumah tangga. Kami berdikusi tentang Bapak saya, tentang om saya, juga tentang para suami binaannya yang kerap curhat padanya. Saya mulai benar-benar berpikir sebagai wanita dewasa. Beyond everything...Ibu saya mengajak saya menyelami pikiran para lelaki dan mencoba mempelajarinya. Saya mengumpulkan banyak kata 'ternyata' di benak saya. Dan saya segera menjadi wanita dewasa yang kuat, penuh pertahanan dan kekanakan sekaligus. Tapi semua 'ternyata' itu mempengaruhi 'obsesi pernikahan dini' saya. Karena ternyata, tidak ada lelaki dewasa yang hanif, sholeh dan cukup bertanggung jawab di usia sebaya saya!!*patahhati
jadi saya mulai mengubur obsesi kronis saya perlahan-lahan. Saya bahkan mulai belajar membayangkan saya akan menikah di usia 30 tahun!! Wow ekstrem... Hingga suatu hari seseorang datang. Dia juga sama gilanya dengan saya, dengan obsesi nikah dininya yang juga kronis. Angan-angan sayapun kembali ketempatnya semula, berada di sela-sela pikiran saya. Sekarang...setelah angan-angan gila dan naif saya kembali, akankah dia datang sesuai ekspektasi saya? Lelaki berusia belia yang sholeh, hanif, ramah, baik hati dan tidak sombong, adakah??? Allah'alam

*saya pikir saya na'if...apakah anda setuju?

Rabu, 31 Agustus 2011

On My Way Home

Assalamualaikum...
Ini adalah cerita terakhir tentang kunjunganku ke Magetan yang cuma tiga hari. So this is it... Kepulangan kita!
Setelah selesai packing dan preparation, kita semua (Tika, Salma, Fi'ah, Ulfah, syahidah udah dijemput emaknya) pergi ke rumah Umi Retno buat pamitan. Kita kesana sekitar jam 2an, ngobrol sebentar, basa-basi. Ceritanya kita mau cepet-cepet karena belum shalat dzuhur juga! Tapi ternyata katanya Abah Rosyad sedang dalam perjalanan pulang ke Magetan dan kami suruh nunggu biar bisa ketemu beliau. Tapi ternyata Abah Rosyad masih lama dan kita balik ke pondok buat ngambil tas. Karena aku dan Fi'ah mau dianterin ke terminal Maospati sekalian. Yeaayy!! Tumpangan gretong...sapa sih yang gak mau? Pas kita semua balik kesono Abah Rosyad emang udah nyampe tapi beliau terlalu capek dan ga jadi nemuin kita. Ya udah ga papa. Salma dan Ulfah ga diaterin karena mereka naik motor (2 thumb up buat Salma yg bisa hapal jalan). Akhirnya kita dianterin ke Maospati ama Umi Retno setelah sebelumnya di bagi Qur'an, kurma dan gantungan kunci. Cihuuyy...sekali kunjungan dapet tiga!! Sering-sering aja kesini *lemparsendal
Jalanan ke Maospati cukup panjang buat kita ngobrol ama Umi Retno. Tentang Hannah si adek baru (usianya sama ama dek Naja), tentang beliau belajar nyetir mobil, tentang nama ke3 anak terakhir beliau yang namanya cuma satu digit (emang angka!) waahhh...tentang banyak deh. Gimana sih kalo perempuan ngobrol!
Akhirnya nyampe juga terminal Maospati. Ini terminal sepiii...banget. Jadi kalo ada copet juga ga bakal ada yang peduli (paling). Sebelum turun kita dipesenin ama Umi Retno.

Umi Retno: Eh hati-hati yah, tau kan bisnya yang mana? Mira atau Sumber Kencon*

Kita ber2: Iya

Umi Retno: Ini mau ditungguin ato gimana?

Tika : Ga usah ga papa kok. (sambil sumbar dalem hati)

Umi Retno: Ya udah hati-hati Hannah salim ama mbak.

Kita berdua akhirnya salim2an ama Hannah dan Umi Retno dan nungguin bis menuju Surabaya di bangku peron. Pas kita lagi asyik mencari bis yang tepat. Ada bis meluncur masuk ke terminal dan yang bikin sial jurusannya: Surabaya-Lupa-Lupa-Jogja.
Di rumahku dan berbagai tempat yang pernah kutinggali, aku udah diakui dan dikasih lisensi atas kelabilanku yang membawa bencana.
Jadi begitu ngeliat tulisan Surabaya aku langsung ngajak Fi'ah buat naik bis itu. Didalem bisnya penuh. Jadi kita duduk terpisah.
Pas ditanyai ama kondektur, aku langsung sibuk cari uang di tas.

Kondektur: Mbak mau kemana?

Tika : (bingung rogohin tas)

Kondektur: Mbak mau kemana? (dengan suara lebih keras)

Tika : Surabaya (dengan mantep bgt jawabnya.)

Kondektur: Surabaya?

Tika : (mbatin dalem hati...emang kenapa?)

Kondektur: Orang ini mau ke Jogja ko'e.

Tika : (Gubraakk...apa? aku langsung blushing)
Pantesan belok ke kiri...emang mencurigakan nih bis!Aku langsung pasang tampak cool dan 'oh-nyasar-toh-gapapa-kok'.

Kondektur: Mandek...salah bis ki lo! (pukulin bagasi tas dengan bolpoin biar bisnya berhenti)
Sumpah aku malu dan keki banget. Semua orang disitu pada nggumam ngomongin aku. "Oalahh...lha wong iki bis nang Jogja lo, kok ke Surabaya ki piye tho"
"Oalah mbak...kok ga ndelok disik"

Uhh...aku langsung menulikan telingaku dan tetep pasang tampang cuek. Begitu bisnya berhenti aku langsung ngajak Fi'ah turun. "Ayo ndang mudhun, yo opo tho mbak...mbak. Wis gede o' ra ngerti numpak bis" Sumpahh...tengsin banget kita berdua. Kita juga dipesenin, kalo tunggu bis ke Surabaya disebrang jalan.
Kita berdua langsung nyebrang dan memutuskan jalan kaki ke terminal Maospati karena bisnya ga lewat-lewat. Kita berdua saling menguatkan diri, "Terminalnya ga jauh kok, tuh keliatan." Padahal aslinya sih...masih jauh. Si Fi'ah terus ngeluh soal tasnya yang berat banget. Dia malah sempat kepikiran buat buka. Uhh...untung tadi pagi sikat gigi pake pasta gigi mint, jadi mulutku tetep seger meski haus. Kita terus jalan kaya wong mbambung ampe akhirnya ada bis yang benar yang Allah kasih buat kita.
(Ohh..thank Allah, you really save us!)
Karena pengalaman aku nanya dulu apa ini mau ke Surabaya, dan mereka jawab ya. Akhirnya kita berdua duduk lega di bangku kosong yang tersedia. Acnya duingin banget ampe bikin sakit perut .
Itu adalah pengalaman yang bener-bener tolol! Lain kali aku berjanji bakal lebih hati-hati sebelum naik bis. Hampir aja tadi mau plesir ke Jogja. (nyesel juga sih...ga jadi nyasar hehehe) Aku ama Fi'ah ketawa bareng dan bayangin coba tadi beneran nyasar ampe Jogja? Hahaha...lumayan kali ya, ga pernah ke Jogja sih.*mesakne
Hahaha...yang jelas kejadian ini malah bikin aku semangat buat pergi jauh sendiri lagi. Kita ga akan pernah tau gimana rasanya sesuatu sebelum coba.

NB: Makasih buat teman-teman yg udah nemenin ngobrol di FB.

*Jangan pernah ceritain ini ke Umi Retno apapun yang terjadi!! Demi Allah jangan!

Balada Si Loren

Assalamualaikum....
Pagi ba'da idul fitri yang cerah! Semua orang pada sarapan junk food sekarang. Mie instan dengan sambel bikinan ibu. Sedaaapp... Tapi aku lagi kejar setoran buat tiket masuk pintu VVIP. Baabur Rayyan. Huh...dengernya aja udah cakep banget kan? Jadi semangat...semangat...semangat!
Btw pagi ini ada berita yang cukup menggemparkan yang dibikin adek ku. Ceritanya pas Bapak ku lagi buka semua pintu dan jendela, beliau liat ada rambut berserakan di teras. Warnanya ada yang oranye ada yang coklat. Masa iya ada bule numpang cukur rambut di teras rumah kami? Rasanya ga mungkin, mengingat rumah kami daerahnya sangat strategis (untuk sarang ular sawah) hahaha. *bletakk Rumah kami tuh mepet sawah dan mepet kebon, pohon bambu. Yaahh..pokoknya tipe Residence 8 Senopati lah. *lempar bakiak
Haahahaha...kembali ke rambut di teras. Pas bapak ku lagi pusing mikirin itu rambut siapa, si Loren (kucing kami) nongol dari bawah kursi dengan mantel koyak. Alias bulu-bulunya tuh udah pada petal gitu. Hahaha...sumpah kesian banget ku ngeliatnya. Akhirnya dengan pandangan murka bapak ku omelin si Haidar (adek kita gitu deh...)
"Dijaga tangannya Haidar! Itu makhluk Allah. Kamu udah besar dikendalikan tangannya dan blabla bla......so on" Si Haidar mah mengkeret aja digituin. Yang jelas rasa penasarannya udah terpenuhi. Semoga tidak diulangi lagi deh.

Senin, 29 Agustus 2011

*Stick Note (Badrussalam in My Memory)

Catatan Penting Yang Berhubungan Dengan Badrussalam:

*Badrussalam berubah makin jelek, tapi konon makin banyak santrinya.*jitak

*Aku ketemu Ami Sur yang notabene my ultimate ustadz waktu itu hehehe. Beliau tidak berubah, tetep ganteng dan baik.

*Aku ngeliat ex pak tukang yang dulu suka berantem ama Luthfi kalo dia ngamuk, dan wajahnya juga belum berubah.

*Masjid Al Huda berubah, dan itu melukai memoriku saat shalat tarawih disana saat masih jadi santri. *ami syahroni dan bacaannya yang bikin pingsan.

*Amah KMI yang dulu aku kenal udah pada jadi usth dan udah married. Dan kejutannya mereka married saling silang*plakk

*KMI punya gedung baru yang layak

*Si Hikmah, anak kecil bawel jaman SD udah punya adek baru dan mereka bener-bener mirip (bawelnya)

*Aku ngeliat jalanan dan jadi inget aku dulu suka blakraan (ga tau artinya cari di kamus!)

*Aku ngeliat para tetangga dan jadi terharu. Inget dulu aku sangat grapyak (cari juga di kamus) dan mereka juga baik banget ama aku. stick with this: Saking grapyaknya aku dulu ramah banget dan supel ama siapa aja. Ama ustadz KMI, alumni guru KMI, temennya guru-guru SDIT, para tetangga (yang aku sempat nonton tv dan makan dirumahnya) eyang Sahlan bahkan menantunya!!

Percaya ga sih. Dulu semuanya pada takut dan sopan banget kalo ngomong ama eyang Sahlan. Tapi aku beda, aku malah dengan santainya nyapa beliau dan ngobrol! Amah-amah KMI pada melotot pas aku negor beliau karena jilbab yang beliau pake sama persis ama jilbabnya Amah Suji. Aku juga suka ngobrol ama beliau kalo lagi makan siang, semua temenku pada bengong tapi aku santai dengerin cerita eyang tentang pondok! *waakkk

Satu lagi, pas aku pergi makan siang aku liat mobil lain di depan rumah eyang. Aku tahu itu putra dan menantu dan cucunya pada dateng, kaya mudik gitu. Pas aku lagi asik makan, seorang wanita lewat dan dia cantik. Berita bagusnya....aku nyapa dia.

Tika: Assalamualaikum...tante menantunya eyang ya? (sumpah sok kenal)

Umah: Panggilnya bukan tante ya, tapi ummah. (anehnya dia ga shock)

Tika: O iya ummah dari Jakarta ya.

Umah: Iya, main kesini ke rumah neneknya Riskia. (Itu nama anaknya, sekitar se Hikmah waktu itu. Sumpeh lo aku inget!!)

Tika: Riskia...maem yuk! *gubraakk (pas aku ngeliat si Riskia nggelendotin umahnya)

Hwaaahaahahahahahahahahahaha. Kalo inget lagi, aku masih suka ngakak. Kenapa aku cerita, karena aku mau kasih tau betapa keren dan cerianya (baca: gilingan) aku dulu. See yazz...Udah dulu ya, PCnya banyak yang ngantri.

NB: Kalo kalian baca trus ada yang kenal dari salah satu yang kusebut diatas, kalian harus buru2 ke dok ter jiwa. Karena seperti sebelumnya, nama diatas disamarkan sesuai karakter yang cocok! *lemparin ember


The Day Journal (kegejeanku (kita) di Magetan)

Assalamualaikum...

Aku mau cerita terusan post yang kemarin. Waktu aku melakukan kunjungan ke Badrussalam. Aku ga bisa kasih link, ga tau tuh habis linknya suka ga nongol meski dikasih. Mungkin sepaket ama templatenya kali yah? Who knows... (yang bikin lah). Ok back to the topic. Ceritanya begitu nyampe pondok aku langsung berangkulan gitu ama temen-temen esde ku. Wuiiihhh...rasanya seneng banget bisa ngeliat muka mereka setelah bertahun-tahun ga ketemu. Beberapa sudah berubah, tapi beberapa tidak, termasuk betapa hangatnya hubungan kami. Tapi ditengah hangatnya kangen-kangenan kami, si Fiah tiba-tiba bilang hapenya ga ada. "Cari dulu lah Fi!" Kita semua jadi sibuk cari hapenya fiah. "Jangan-jangan ketinggalan di mobilnya Mas Fatah?" Kata Fiah. Aduhh plis deh masa iya ketinggalan di mobilnya Fatah!! Rencananya setelah ini, aku udah ga ada urusan apa-apa lagi ama Fatah. Pertama malu, kedua ga kenal akrab aku mah. Akhirnya ada yang sibuk smsin dia (hah...sejak kapan mereka jadi akrab dan ga sungkan?) Aku coba telpon siapa tahu itu bukan mobil pribadi, kan bisa kacau urusannya. (yang ini sungkan banget suer!) Tapi akhirnya massalah beres, kita nerusin rendezvousnya.

Setelah berangkulan dan cipika cipiki kita langsung cekikikan ga jelas. Biasa ngomong bersamaan soal perubahan masing-masing. Mereka bilang aku ga berubah. "Sama sekali ga?" Tanyaku penasaran. Mereka bilang ga. Wajahku, tinggi badanku, cara berpakaianku. (tau ga sih jilbab yang aku pake waktu itu awet sejak es de) Mereka bilang "Mbak Tika ga berubah ah, segini aja dari dulu. Oow...are you sure? My heart was ripping. Hahaha...emang iya sih. Orang tukang tambal ban, abang jualan pentol, gorengan di rumahku pada ngira aku ini anak es em pe. Yang bener aja, aku ini udah 18 tahun, udah boleh bikin ka te pe dan bikin sim, udah boleh contreng parpol, dan udah boleh dipenjara kalo ngrampok. (dih kaga bakalan dah...)Ups btw aku belum bikin ka te pe sih (sssttt...jangan bilang-bilang ya!) rencananya ga mau bikin ampe bener-bener kepepet. Hahaha ini lah warganegara yang baik dan benar.*plak Stop! Kita tadi mau cerita soal kunjunganku ke Magetan kan? Ok let's continue it! 

Nah setelah cekikikan, berhubung subuh udah dateng kita langsung wudhu dan sholat jamaah bareng. It was the lovely moment :) :) we stick together to do worship to Allah. Habis itu gadis-gadis mulai ramai lagi kaya nenek-nenek encok, sedangkan ibuku istirahat dulu. Kasihan beliau, pasti capek banget nganterin aku. Sementara itu begitu matahari nongol, kita langsung jalan-jalan. Ga jauh kok, ke sawah sekitar situ. Mau tahu? Let's check it out!











Nah habis itu kita langsung meluncur ke rumah Umi Retno. Beliau itu....yang punya pondok ini. Kita rombongan kesana, salamnya juga rombongan! Mbaknya langsung keluar begitu dengar. (stres deh kayanya denger suara kita)Kita akhirnya kopi darat ama Umi Retno di ruang tamu sebelah. Well it has been long time, since we were elementary!! Kejutannya, beliau masih sama! Tetep cantik dan awet muda. Aku sampai ga percaya, apa ini kloningannya?*tonjok Alhamdulillah silaturahim lancar, hape dibalikin dan kita balik ke pondok tempat nginep sambil mengumpulkan kenangan. Di pondok kita nerusin ngobrol lagi. Cerita masa lalu, merenunginya dan mentertawainya. 

Siangnya aku anterin ibu pulang ke terminal dan kita kopi darat ama guru-guru SDIT. See...they look just the same. Ga ada yang berubah. Bedanya beberapa dari mereka udah married dan udah punya baby. Yang itu biasa, yang luar biasa masih ada yang belum married. Ollalalaaa... Padahal kata-kata terakhir yang ku tulis di form kesan pesan pas aku kelas 6 adalah " Menikahlah, karena menikah adalah sunnah yang bersejarah." Ceileehh...keren banget ga sih. Itu kutipan dari buku favorit aku 'Diary Pengantin'. Habis itu sorenya kita (Tika, Salma, Syahidah, Fiah, Ulfah) ngumpul bareng alumni lain dan cowok-cowok juga. Btw cowoknya cuma 2 biji (Miqdad dan Muadz) itu aja udah pingin mulangin mereka ke kutub utara. Gara-gara keributan (keributan gitu??) ga penting itu, kami jadi ga bisa ikutan IG. (sungkan euy ama yang jemput!)

Sorenya kita sibuk masak buat buka puasa, o iya siangnya kita ke pasar gorang gareng lo belanja! Habis itu waktu kita habiskan dengan nonton film dari netbooknya Salma. Lumayan film drama Thailand dan horror Barat. Akhirnya maghrib dateng juga, kita buka bersama masakan kita sendiri. Rasanya sih kacau balau dibandingin masakan chef handal (baca: ibuku) tapi aku bahagia dan bersyukur merasakannya. Bukan karena menghargai Salma si juru masak, tapi....daripada kelaperan!*lemparsendal Dan satu lagi kejutan ada Aziz disana, dia salah satu dari beberapa ekor cow(ok) yang dateng kesana. Tapi dia telat jadi...ga beken deh. Hahahaha. Besoknya dihabiskan untuk beres-beres dan pergi ke terminal untuk kembali ke habitat masing-masing. Hatiku rasanya ga asik pergi sesebentar itu. Tapi Allah baik sekali sudah ridho untuk mempertemukan kami kembali. I love you akhwatiy....

NB: Semua nama yang nampang di tulisan ini adalah 100% nama samaran yang dipilih melalui petunjuk wangsit oleh penulis. Jadi kalo kamu merasa namamu ada disini, kamu pasti salah minum obat.